582 Anak Jadi Korban dan Pelaku Pidana di Bali, KPPAD Bali Dorong Gubernur Buat Pergub Anak

Berdasarkan pengamatan di pemberitaan sejak tahun 2017 sampai dengan 2019, sebanyak 582 anak menjadi korban kekerasan dan pelaku pidana di Bali

582 Anak Jadi Korban dan Pelaku Pidana di Bali, KPPAD Bali Dorong Gubernur Buat Pergub Anak
pixabay.com
Ilutrasi kekerasan anak - Sebanyak 582 anak menjadi korban kekerasan dan pelaku tindak pidana di Bali. Jumlah kasus tersebut didapat dari rangkuman dari pengamatan di pemberitaan sejak tahun 2017 sampai dengan 2019. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sebanyak 582 anak menjadi korban kekerasan dan pelaku tindak pidana di Bali.

Angka ini didapat oleh Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Bali dengan merangkum hasil pengamatan media massa mengenai anak berhadapan dengan hukum.

Komisioner Bidang Anak Berharapan dengan Hukum KPPAD Bali, Ni Luh Gede Yastini mengatakan, anak sebagai pelaku paling banyak melakukan pencurian dan terlibat geng motor seperti balap liar, begal, hingga jambret.

Sementara anak dengan status sebagai korban paling banyak mengenai kekerasan seksual dan juga pembuangan bayi.

Dari 582 tersebut, sebanyak 311 atau 53 persen sebagai pelaku tindak pidana. Sedangkan 271 orang atau 47 persen lainnya menjadi korban tindak pidana.

Balita 2,5 Tahun yang Patah Tulang Akibat Kekerasan, Diizinkan Pulang oleh Pihak RSUP Sanglah

"Beberapa pekan terakhir di tahun 2019 ini, kita disuguhi pemberitaan tentang anak usia sekolah dasar yang turut serta balap liar di malam hari," kata Yastini melalui keterangan tertulis yang diterima Tribun Bali, Rabu (11/12/2019).

Jumlah kasus tersebut didapat dari rangkuman dari pengamatan di pemberitaan sejak tahun 2017 sampai dengan 2019.

Kata Yastini, sebelumnya terdapat seorang polisi meninggal dunia karena tertabrak saat menjalankan tugas untuk membubarkan aksi balap liar yang dilakukan anak-anak di Denpasar.

Yastini mengatakan, anak di jalanan yang melakukan balap liar hingga melakukan tindak pidana seperti pembegalan dan penjambretan menjadi isu anak yang berhadapan dengan hukum dari sisi pelaku. Hal ini harus mendapatkan perhatian serius.

Sebelumnya, kata dia, pada 2017 sudah ada Surat Edaran (SE) Gubernur Bali mengenai pengawasan intensif anak jalanan dan anak di jalanan.

Bintang Puspayoga Temui Korban Kekerasan Anak, Tak Ingin Bebani Korban dengan Biaya Perawatan

Halaman
12
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved