Kasus Penganiayaan Hewan di Bali Meningkat Tahun 2019, Ini Modus-modus Penyiksaan

Pada 2019 terjadi 50 kasus diantaranya 19 kasus mengenai penganiayaan terhadap hewan di Bali.

Kasus Penganiayaan Hewan di Bali Meningkat Tahun 2019, Ini Modus-modus Penyiksaan
Tribun Bali/Rino Gale
Ketua Animal Defender, Jovania Emanuel Calvary dan Junian Christina selaku Founder Bali Cat Lover saat ditemui di Ditkrimsus Polda Bali, Jalan WR Supratman, Denpasar, Bali, Senin (16/12/2019). 

Kasus Penganiayaan Hewan di Bali Meningkat Tahun 2019, Ini Modus-modus Penyiksaan

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pada tahun 2019, kasus penganiayaan terhadap hewan meningkat.

Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Bali Animal Defender Joviana Immanuel Calvary saat ditemui di Polda Bali, Senin (16/12/2019).

"Dari tahun 2018 kurang lebih 30 kasus penelantaran dan penganiayaan hewan. Sedangkan pada tahun 2019 meningkat ke angka 50 kasus penelantaran dan penganiayaan hewan," ujarnya.

Ia menjabarkan, pada tahun 2019 terjadi 50 kasus diantaranya 19 kasus mengenai penganiayaan terhadap hewan di Bali.

"Kasus kekerasan yang kita catat dari facebook dan instagram itu ada 19 kasus dan 8 sudah dinyatakan P21. Karena memang laporan yang kita terima itu banyak melalui medsos," ujarnya.

Kasus penganiayaan terhadap hewan meliputi anjing, kucing, sapi dan binatang lainnya itu karena dipukul menggunakan senjata tajam, ditembak dan lain sebagainya yang membuat hewan tersebut mati

"Contoh, kemarin lalu di Gianyar ada kasus penganiayaan terhadap anjing dengan cara dipukul palu, ditembak serta dikurung di kandang dengan ukuran kecil sampai mati," ungkapnya.

Alasan para pelaku menganiaya hewan itu bermacam-macam.

Di antaranya karena kedatangan dan sikap hewan tersebut membuat jengkel.

"Ya banyak alasannya, karena nakal dan mengganggu. Sampai-sampai karena jengkel hewan itu dibunuh. Kasus ini semua terjadi di Bali. Ada di Karangasem, Bangli dan Gianyar," kata dia.

Pihaknya juga telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat baik tatap muka maupun melalui medsos.

Namun hal itu sia-sia, karena masih saja ditemukan kasus penganiayaan terhadap hewan.

"Sebetulnya kita tak perlu membawa hal ini ke proses hukum, namun penganiayaan terhadap hewan semakin meningkat. Kan kalau memang tidak suka dengan hewan tersebut Bali Defender siap menampung dan mencarikan pengasuh. Dan kita sebagai manusia tentu memiliki akal budi yang sehat dan tidak perlu harus membunuh," ujarnya. (*)

Penulis: Rino Gale
Editor: Kander Turnip
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved