Divonis 12 Tahun Penjara, Mantan Wakil Gubernur Bali Ajukan Banding, PH : Masih Ada Celah

Putusan majelis hakim dianggap terlalu berat sehingga pihak I Ketut Sudikerta berupaya mengajukan banding.

Divonis 12 Tahun Penjara, Mantan Wakil Gubernur Bali Ajukan Banding, PH : Masih Ada Celah
Tribun Bali / Putu Candra
Mantan Wakil Gubernur Bali, I Ketut Sudikerta diminta berdiri saat hakim membacakan putusan di PN Denpasar, Jumat (20/12/2019) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Putusan majelis hakim dianggap terlalu berat sehingga pihak I Ketut Sudikerta berupaya mengajukan banding.

Oleh majelis hakim, mantan Wakil Gubernur Bali ini divonis 12 tahun penjara. Alasan pengajuan banding itu disampaikan penasihat hukum Sudikerta yaitu I Nyoman Darmada.

"Banding karena putusan hakim sangat berat. Namun dari pihak terdakwa (Sudikerta) menerima dengan tulus dan menghormati putusan itu. Tapi tetap melakukan upaya banding," ujarnya di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Bali, Jumat (20/12/2019).

Menurut Darmada, dilakukannya upaya banding karena masih ada celah.

"Dalam putusan ada celah-celah yang memungkinkan untuk kami menyelesaikan. Dan dari putusan hakim itu agar kami bisa mengimbangi," tuturnya.

Ditanya apakah upaya perdamaian dengan korban masih diupayakan. "Tetap. Sampai hari ini pun kami bicara ke Pak Esha (pihak PT Maspion) agar bisa mengusahakan perdamaian. Kami mengusahakan pembeli supaya bisa diselesaikan perdamaian ini," jawab Darmada. 

Dalam amar putusan, Sudikerta dinyatakan terbukti bersalah melakukan penipuan dan melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) senilai Rp 150 miliar dengan korbannya, bos PT Maspion Surabaya, Alim Markus.

Putusan majelis hakim tersebut lebih ringan tiga tahun dari tuntutan tim jaksa. Sebelumnya tim jaksa menuntut Sudikerta dengan pidana penjara selama 15 tahun.

Selain itu juga dituntut pidana tambahan berupa pidana denda Rp 5 miliar subsidair enam bulan kurungan. Terhadap putusan itu, Sudikerta langsung mengajukan banding. Di sisi lain, tim jaksa masih pikir-pikir.

"Hari ini saya langsung menyatakan banding dan kami mohon dibuatkan berita acara permohonan banding," ucap Sudikerta kepada majelis hakim.

"Terdakwa mengajukan banding ya. Jadi dengan telah berakhirnya pembacaan putusan ini, maka tugas kami majelis hakim dalam perkara ini telah selesai. Sidang dinyatakan ditutup," ujar Hakim Ketua Esthar Oktavi sembari mengetok palu sebanyak tiga kali.

Majelis hakim sendiri dalam amar putusannya menyatakan sependapat dengan dakwaan pada tuntutan tim jaksa.

Oleh karena itu, Sudikerta dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah turut serta melakukan penipuan dan pencucian uang.

Sebagaimana dakwaan, Sudikerta dijerat Pasal Pasal 378 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan Pasal 3 UU RI No.8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

"Mengadili, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Drs I Ketut Sudikerta dengan pidana penjara selama 12 tahun, dikurangi selama berada dalam tahanan dengan perintah tetap ditahan. Pidana denda Rp 5 miliar subsidair empat bulan kurungan," tegas Hakim Ketua Esthar Oktavi. (can)

Penulis: Putu Candra
Editor: Ni Ketut Sudiani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved