Air Tanah Sang Primadona di Bali yang Menjadi Kambing Hitam

Intensitas pengambilan air tanah (sering disebut dengan ABT/ Air Bawah Tanah) yang meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, berpotensi akan

dok/ist
Ketut Ariantana, ST.MSi, Anggota PAAI (Perhimpunan Ahli Air Tanah Indonesia) 

oleh Ketut Ariantana, ST.MSi.

Anggota PAAI (Perhimpunan Ahli Air Tanah Indonesia)

TRIBUN-BALI.COM, -- Intensitas pengambilan air tanah (sering disebut dengan ABT/ Air Bawah Tanah) yang meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, berpotensi akan mengakibatkan terjadinya potensi subsiden, yaitu terjadinya penurunan permukaan tanah.

Potensi ini, memang sangat mungkin terjadi, akibat cadangan air pada aquifer air tanah di dalam lapisan tanah berkurang bahkan bisa habis, sehingga ada ruang kosong pada lapisan batuan dalam tanah yang dapat berakibat terjadinya penurunnya permukaan tanah.

Begitulah sederhananya, kenapa SUBSIDEN itu terjadi. Tapi apakah sesederhana itu, subsiden itu terjadi dari setiap pengambilan air tanah yang berlebihan...?

Ada beberapa faktor yang mengakibatkan subsiden itu dapat terjadi selain pengambilan air tanah, diantaranya adalah litologi batuan, yaitu jenis lapisan batuan pada suatu lokasi atau kawasan.

Pada Litologi batuan yang diominasi alluvium, potensi Subsiden relative besar, sementara pada litologi yang didominasi Sedimen Gunung Api maupun Sedimen Gamping, potensi Subsiden relatif kecil.

Bagaimana dengan dampak pengambilan air tanah di Pulau Bali yang dari tahun ke tahun meningkat seiring dengan perkembangan pembangunan dan pertumbuhan jumlah penduduk dan wisatawan. 

Inilah salah satu konsekuensi dari pembangunan, dimana” air adalah kebutuhan pokok dan air tidak tergantikan”.

Berbicara air tanah, maka kita mesti memahami proses terbentuknya air tanah itu sendiri, yang mana merupakan bagian dari “Siklus Hidrologi”. 

Halaman
1234
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved