Air Tanah Sang Primadona di Bali yang Menjadi Kambing Hitam

Intensitas pengambilan air tanah (sering disebut dengan ABT/ Air Bawah Tanah) yang meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, berpotensi akan

Editor: Ady Sucipto
dok/ist
Ketut Ariantana, ST.MSi, Anggota PAAI (Perhimpunan Ahli Air Tanah Indonesia) 

Pengambilan air tanah dengan cara penggalian/pengeboran ini tergolong rekayasa bukan alami.

Terjadinya alih fungsi lahan, di mana berkurangnya area terbuka pada kawasan industri dan pemukiman serta  berkurangnya kawasan hutan sebagai kawasan imbuhan berakibat pada berkurangnya infiltrasi air hujan ke dalam tanah, yang merupakan bahan baku dari air tanah itu sendiri.

Dari sini, kita dapat mengetahui dan memahami permasalahan dan tindakan apa yang bisa dilakukan untuk mempertahankan keseimbangan Siklus Hidrologi.

Secara simple dapat kami sampaikan adalah : kendalikan dan kurangi pengambilan air tanah, maksimalkan pengambilan/pemanfaatan air permukaan dan lakukan konservasi Sumber Daya Air.

Begitu simple dan mudah disebutkan tetapi sangat sulit dilaksanakan, di mana membutuhkan kesadaran dan pemahaman dari setiap individu maupun komunitas, membutuhkan sinergitas antar instansi terkait dan yang tidak utama tetapi penting adalah adanya komitmen dari setiap pimpinan dan kepala daerah.

Karena berbicara SDA tidak bisa berpatokan pada batas administrasi kabupaten/kota.

Membandingkan Bali di tahun 80an dengan Bali saat ini, sudah tentu sangat berbeda.

Jumlah Penduduk dari 2 juta jiwa, saat ini hampir mencapai 5 juta jiwa. Jumlah pendatang (tidak tercatat sebagai penduduk Bali) dan wisatawan juga meningkat berlipat-lipat.

Sesuatu yang alamiah jika kebutuhan air bersihpun meningkat tajam. Pembangunan akomodasi berkembang pesat ke segala kawasan, dengan alasan pengembangan ekonomi.

Diiringi pula alih fungsi lahan produktif menjadi pemukiman.  Berkurangnya area imbuhan alami berakibat pada berkurangnya debit Air Permukaan.

Kualitas air permukaan pun kurang baik akibat polusi sampah maupun polusi limbah rumah tangga.

Kondisi ini menyebabkan PDAM kewalahan dalam penyediaan air bersih.

Dunia usaha maupun penduduk secara mandiri mencari alternatif, dan Air Tanah menjadi pilihan yang mudah dan efisien.

Semua PDAM di Bali juga mengambil air tanah sebagai air yang didistribusikan (dijual). 

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved