Status Kepemilikan Lahan Tidak Jelas, Satpol PP Hentikan Pembangunan Rumah Permanen

Satpol PP dan Damkar Klungkung menerima keluhan warga terkait pembangunan rumah di Jalan Subali.Satpol PP hentikan pembangunan rumah permanen.

Status Kepemilikan Lahan Tidak Jelas, Satpol PP Hentikan Pembangunan Rumah Permanen
Istimewa
Satpol PP dan Damkar Klungkung menghentikan pembangunan rumah semi permanen di Jalan Subali, Kelurahan Semarapura Kelod Kangin, Klungkung, Minggu (29/12/2019) 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Satpol PP dan Damkar Klungkung menerima keluhan warga, terkait pembangunan rumah di seputaran Jalan Subali, Kelurahan Semarapura Kelod Kangin, Klungkung, Bali.

Pembangunan rumah tersebut, ditenggarai didirikan di tanah yang status kepemilikannya belum jelas.

Setelah berkoordinasi dengan berbagai pihak, Satpol PP pun menghentikan sementara pembangunan rumah dengan luas sekitar 5 X 10 meter tersebut.

"Kami menghentikan pembangunan rumah permanen di Jalan Subali, Semarapura. Itu karena bangunan itu, berdiri di tanah yang tidak jelas status kepemilikannya," ujar Kasatpol PP dan Damkar Klungkung, I Putu Suarta, Minggu (29/12/2019).

Ada Ketimpangan Kerja, Pemkab Klungkung Gunakan E-Jasa untuk Evaluasi Tenaga Kontrak

Lestarikan Produk Kain Lokal Melalui Fashion Show, Pemkab Klungkung Resmikan Blok A Pasar Semarapura

Sebelum menghentikan pembangunan itu, Satpol PP meminta klarifikasi pemilik bangunan.

Ternyata pemilik bangunan itu juga mengaku tidak tahu menahu terkait status kepemilikan lahan itu.

"Pemilik bangunan itu, mengaku itu tanah sisa kavlingan, dan sudah mendapatkan izin untuk membangun dari Bendesa Adat Semarapura. Setekah kami koordinasi dengsn Bendesa Semarapura, ternyata tidak ada yang bersangkutan mengeluarkan izin," jelas Suarta.

Hal ini membuat Satpol PP harus menghentikan sementara pekerjaan proyek pembangunan rumah itu sampai nanti adanya penelusuran dari BPN, terkait status kepemilikan lahannya.

Lurah Semarapura Kelod Kangin Ketut Muka menjelaskan, bangunan tersebut merupakan milik seorang warga asal Kelurahan Semarapura Kangin.

Bangunan tersebut memiliki luas sekitar 5X10 meter, dan terdiri dari 3 kamar.

"Kami sudah mintai keterangan ke warga pemilik bangunan itu, dan ia sendiri tidak tahu mendirikan bangunan dilahan milik siapa," jelas Ketut Muka.

Warga tersebut beralasan tidak punya rumah, dan bosan karena sudah mengontrak rumah selama 15 tahun.

Sehingga ia nekat membangun rumah, di lahan yang bukan miliknya.

"Info dari masyarakat ini dulu tanah perawahan, lalu dikavling. Dan tanah ini merupakan tanah sisa. Nanti terkait status kepemilikanya, masih dicek BPN," jelasnya.(*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved