Breaking News:

Bagaimana Prospek Iklim Tahun 2020? Begini Kata BMKG

Bagaimana Prospek Iklim Tahun 2020 ? Kondisi Musim Kemarau 2020 tidak akan sekering tahun 2019 di sebagian besar wilayah Indonesia.

Tribun Bali/Zaenal Arifin
Ilustrasi foto Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat menyampaikan mengenai Bali jadi backup InaTEWS Jakarta. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA – Bagaimana Prospek Iklim Tahun 2020 ?

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Prof. Dwikorita Karnawati melalui keterangan tertulisnya, Selasa (31/12/2019) di Jakarta menyampaikan berdasarkan prediksi model El Nino BMKG hingga tahun 2020, kencendrungan Samudra Pasifik ekuator bagian tengah akan barada pada kondisi Netral, artinya kecil peluangnya akan muncul fenomena El Nino maupun La Nina di Samudra Pasifik.

Sementara untuk Samudra Hindia, tidak terdapat indikasi akan munculnya fenomena 10D+ maupun 10D- yang kuat pada tahun 2020.

Pada awal tahun 2020 kondisi suhu muka laut Perairan Indonesia diperkirakan normal hingga cenderung hangat yang bertahan hingga Juni 2020.

Refleksi 2019 Kejadian Bencana Terkait Cuaca, lklim dan Gempabumi yang Signifikan Dari BMKG

4 Perairan Bali Ini Terus Menjadi Sorotan BMKG, Masyarakat Diimbau Waspada Potensi Gelombang Tinggi

Bali Potensi Hujan Lebat Disertai Petir, Angin Kencang dan Gelombang Tinggi, BMKG Waspada

“Berdasarkan prediksi BMKG hingga akhir tahun 2020, curah hujan bulanan sepanjang tahun 2020 cenderung sama dengan pola normal (klimatologinya). Awal Musim Hujan akhir 2019 telah diperkirakan akan lebih mundur dari normalnya, juga bila dibandingkan tahun 2018 lalu. Curah hujan Januari — Maret 2020 diperkirakan tinggi terutama di bagian selatan Pulau Sumatera, Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara, Kalimantan bagian tengah, Sulawesi dan Papua,” paparnya.

Awal Musim Kemarau 2020 diprakirakan juga mirip dengan normalnya, yaitu sekitar April - Mei 2020.

Tetap perlu diwaspadai wilayah yang mempunyai 2 kali periode musim kemarau seperti di Aceh dan Riau, dimana Kemarau Pertama umumnya terjadi di Februari - Maret.

Untuk periode musim kemarau 2020 (April - Oktober), curah hujan saat kemarau akan mirip dengan pola normalnya.

Kondisi Musim Kemarau 2020 tidak akan sekering tahun 2019 di sebagian besar wilayah Indonesia (Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara).

Untuk meminimalkan dampak musim kemarau maka perlu memaksimalkan kapasitas waduk, embung kolam retensi dan system folder untuk penyimpanan cadangan air.

Hal tersebut biasa dilakukan pada puncak musim hujan yang untuk tahun 2020 diprediksi terjadi pada bulan februari - maret dan pada musim peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau April — Mei.

Perlu pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca lebih awal untuk meningkatkan kebasahan lantai lahan gambut dan mengisi waduk dengan memperhatikan informasi cuaca dan iklim yang dikeluarkan BMKG.

“Waspada Puncak Musim Hujan 2020 yang diprediksi terjadi pada bulan Februari dan Maret terutama di Jawa, Sulawesi Tenggara dan Papua yang diprakirakan akan mendapat hujan bulanan dengan kategori tinggi sampai sangat tinggi,” imbuh Dwikorita.

Peningkatkan peran serta masyarakat dikawasan potensi kebakaran hutan lahan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan terutama pada musim kemarau bulan Juni, Juli dan Agustus perlu ditingkatkan melalui edukasi bersama para pihak yang berkepentingan pada pengendalian kebakaran hutan dan lahan.(*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved