Presiden Jokowi Gaungkan Optimisme di Tengah Ketidakpastian Situasi Ekonomi dan Politik Dunia

Presiden kembali menggaungkan optimisme di tengah situasi ekonomi dan politik dunia yang penuh dengan ketidakpastian.

BIRO PERS SEKRETARIAT PRESIDEN
Presiden Joko Widodo berbincang dengan para kepala perwakilan RI seusai membuka rapat kerja di Istana Negara, Jakarta, pada Kamis, 9 Januari 2020. Rapat kerja tersebut dihadiri 131 Kepala Perwakilan dan Eselon I Kementerian Luar Negeri. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo membuka Rapat Kerja (Raker) Kepala Perwakilan Republik Indonesia dengan Kementerian Luar Negeri di Istana Negara, Jakarta, Kamis (9/1/2020.

Rapat kerja tersebut dihadiri 131 Kepala Perwakilan dan Eselon I Kementerian Luar Negeri.

 Presiden kembali menggaungkan optimisme di tengah situasi ekonomi dan politik dunia yang penuh dengan ketidakpastian.

Ditambah lagi dengan meningkatnya konflik yang terjadi di beberapa negara maupun antarnegara.

 "Tetapi kita harus yakin bahwa di tengah situasi yang penuh tantangan tersebut, negara kita Indonesia mampu berlayar tetap berdiri tegak dalam rangka terus memperjuangkan kepentingan nasional kita," kata Presiden Jokowi.

Gelandang Bali United Hariono Senang Adaptasinya Lancar, Sebut Sosok Ini Paling Berperan

Ramalan Zodiak Cinta Hari Ini Kamis 9 Januari 2020: Aries Kehilangan, Cancer Tidak Akan Kesepian!

Ramalan Shio 9 Januari 2020, Shio Naga Jatuh Cinta, Shio Ular Butuh Relaksasi

Konstitusi mengamanatkan para duta besar Indonesia sebagai duta perdamaian. Meski demikian, Kepala Negara menghendaki agar para perwakilan RI di luar negeri tersebut juga mengupayakan diplomasi ekonomi.

 "Saya ingin 70-80 persen apa yang kita miliki itu fokusnya di situ, di diplomasi ekonomi karena itulah yang sekarang ini sedang diperlukan oleh negara kita. Oleh sebab itu, penting sekali para duta besar ini sebagai duta investasi," jelasnya.

 Sebagai duta investasi, Presiden menyebut, para duta besar harus mampu mengidentifikasi jenis investasi di bidang apa yang diperlukan dan diprioritaskan oleh Indonesia.

Menurut Presiden, bidang yang menjadi prioritas tersebut antara lain, produk substitusi impor.

 "Kita tahu yang namanya petrochemical itu masih impor, 85 persen masih impor. Sehingga kalau kita ingin mendatangkan investasi, cari produk-produk yang berkaitan dengan barang-barang substitusi impor kita. Petrokimia berkaitan dengan methanol misalnya," ungkapnya.

Halaman
123
Editor: DionDBPutra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved