6 Atraksi Budaya Bali Ini yang Sering Menjadi Buruan Para Fotografer, Jangan Sampai Kelewatan!

Bagi Anda yang menyukai fotografi dan tertarik dengan potret budaya, berikut adalah beberapa tradisi Bali yang kerap diburu para fotografer

6 Atraksi Budaya Bali Ini yang Sering Menjadi Buruan Para Fotografer, Jangan Sampai Kelewatan!
Tribun Bali/Rizal Fanany
Tradisi Perang Api atau Siat Geni di Pura Dalem Khayangan Desa Adat Tuban, Kuta, Badung, Bali, Minggu (13/10/2019). 

Jangan Sampai Kelewatan, 6 Atraksi Budaya Bali Ini yang Sering Menjadi Buruan Fotografer

TRIBUN-BALI.COM – Bali dengan keunikan budayanya sejak dulu menjadi magnet bagi para wisatawan.

Tak hanya lanskap alam beserta keindahan pantai dengan sunset-nya, atraksi budaya Bali juga sering menjadi daya tarik wisatawan.

Demikian pula halnya para fotografer yang tak ingin melewati berbagai momen atraksi budaya di Bali.

Bagi Anda yang menyukai fotografi dan tertarik dengan potret budaya, berikut adalah beberapa tradisi Bali yang kerap diburu para fotografer.

Selain untuk keperluan pekerjaan atau arsip pribadi, beberapa tradisi Bali ini bisa untuk mempercantik feed sosial media Anda.

1. Mekotek (Munggu, Badung)
Tradisi Mekotek atau ngrebeg merupakan tradisi sakral yang turun temurun tetap dilestarikan oleh warga Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.

Tradisi Mekotek dilaksanakan setiap 6 bulan sekali, tepatnya saat Hari Raya Kuningan atau 10 hari setelah Hari Raya Galungan.

Biasanya, ribuan warga Desa Adat Munggu telah berkumpul sejak pukul 12.00 Wita, di Depan Pura Puseh Munggu untuk menggelar tradisi ini.

Tradisi Mekotek atau ngrebeg merupakan tradisi sakral dari Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Tradisi Mekotek ini selalu dilaksanakan 6 bulan sekali atau setiap Hari Raya Kuningan.
Tradisi Mekotek atau ngrebeg merupakan tradisi sakral dari Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Tradisi Mekotek ini selalu dilaksanakan 6 bulan sekali atau setiap Hari Raya Kuningan. (Tribun Bali/Rizal Fanany)

Prosesi diawali dengan persembahyangan bersama di Pura Desa, kemudian warga seluruhnya berjalan kaki mengelilingi seluruh Desa dengan membawa tongkat.

Halaman
1234
Penulis: Widyartha Suryawan
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved