Pria dengan Tuntutan Ekonomi yang Tinggi Kesehatan Mentalnya Menurun, Begini Menurut Penelitian

Kasihanilah pria, penelitian menunjukkan tuntutan ekonomi yang tinggi membuat kesehatan mentalnya menurun.

Pria dengan Tuntutan Ekonomi yang Tinggi Kesehatan Mentalnya Menurun, Begini Menurut Penelitian
pixabay.com/caio_triana
Ilustrasi kelelahan 

TRIBUN-BALI.COM - Dalam pandangan masyarakat tertentu, pria dianggap perlu menghasilkan lebih banyak uang ketimbang istri mereka.

Pria pun dituntut bisa meraup banyak uang untuk kebutuhan keluarganya.

Bisa saja pria mendapatkan banyak uang. Tetapi, penelitian menunjukkan mereka cenderung memiliki kesehatan yang buruk dan kecemasan yang meningkat.

Dikutip dari Live Science, para peneliti menganalisis survei dari 9.000 pria dan wanita muda yang telah menikah di Amerika Serikat yang diambil setiap tahun selama periode 15 tahun, dan mengevaluasi respons masing-masing peserta tentang pendapatan, kesehatan, dan kesejahteraan psikologis.

Survei tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak tanggung jawab ekonomi yang dimiliki seorang pria dalam perkawinannya, semakin kesejahteraan psikologis dan kesehatannya menurun.

Kunjungi Black Sand Beach di Islandia, Nagita Kaget 55 Nelayan Meninggal di Tempat Tersebut

Piala Eropa 2020 Hanya Mimpi bagi Nicolo Zaniolo, Matthijs Bikin Pemain Timnas Italia Itu Cedera

2 Gol Spektakuler Melvin Platje Bawa Bali United Ungguli Tampines Rovers

Survei juga menemukan bahwa budaya yang menempatkan pria sebagai pencari nafkah utama - dan memenuhi harapan bahwa suami harus membawa pulang lebih banyak uang daripada istri mereka - sebenarnya lebih buruk daripada pria yang mendapatkan gaji yang lebih setara dengan istri mereka.

"Studi kami menunjukkan persoalan gender yang berkaitan dengan tuntutan penghasilan juga berbahaya bagi pria," kata Christin Munsch, asisten profesor sosiologi di University of Connecticut.

"Laki-laki diharapkan menjadi pencari nafkah, namun memberi sedikit atau tidak dapat membantu keluarga akan memiliki dampak yang negatif."

Disebutkan pula, kesehatan dan kondisi psikologis pria paling menderita ketika mereka menjadi pencari nafkah tunggal keluarga mereka (menikah dengan istri yang tidak bekerja).

Sebaliknya, pencari nafkah memiliki efek positif pada wanita: Istri yang menghasilkan lebih banyak uang daripada suami mereka menunjukkan lebih banyak kesehatan mental yang positif daripada ketika mereka menghasilkan lebih sedikit.

Peneliti menduga, kesehatan psikologis pria akan membaik jika mereka tidak mengalami paradigma "pencari nafkah".

Namun demikian, belakangan sejumlah adat budaya gender perlahan berkurang -misalnya, ayah semakin diharapkan untuk merawat anak-anak dan membantu dengan tugas-tugas rumah tangga. (*)

Penulis: Widyartha Suryawan
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved