Rafikin Pilih Bertahan Dari Abrasi, Warga Banjar Pebuahan Khawatir Gelombang Tinggi Jelang Tilem

Abrasi di Banjar Pebuahan, Desa Banyubiru Kecamatan Negara, Bali membuat 15 KK (Kepala Keluarga) mengungsi, Namun Rafikin pilih bertahan

Tribun Bali/I Made Ardhiangga
Foto: Rumah warga yang terkena terjangan gelombang, Senin (13/1/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Abrasi di Banjar Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, Bali membuat 15 KK (Kepala Keluarga) mengungsi.

Abrasi terjadi beberapa hari lalu, pada Kamis (9/1/2020) dan Jumat (10/1/2020) saat angin laut kencang menuju ke daratan.

Seorang warga Rafikin, masih memilih untuk tetap diam di rumahnya yang terletak persis bersebelahan dengan bibir pantai.

Rafikin mengaku, ketinggian ombak saat ini mencapai 1 meter setengah.

Dua Bulan Bebas, Fenny Kembali Masuk Bui

Tampines Rovers vs Bali United di Liga Champions Asia, Sopir Tembak Soroti Pelatih Asal China

12 Kilometer Garis Pantai di Klungkung Masih Rawan Abrasi, Tahun 2020 Fokus Tangani Nusa Penida

Saat menjelang purnama kemarin ombak tinggi hingga dua meter lebih menerjang rumah warga.

Akibatnya, rumah warga porak poranda diterjang gelombang tinggi, dan diperkirakannya 15 KK sudah mengungsi.

"Saya gak tahu lah, pak. Nunggu baru ancur lebur nanti baru saya akan pindah. Sekarang milih menetap saja," keluhnya, Senin (13/1/2020) saat ditemui di pinggir rumahnya.

Rafikin mengakui, bahwa saat tilem atau menjelang tilem pada Jumat (24/1/2020) mendatang, ia cukup khawatir.

Sebab, sebagai nelayan, angin kencang yang membuat gelombang tinggi itu tiba pada saat menjelang purnama dan menjelang tilem.

"Kalau saya punya tempat pasti pindah. Kalau sekarang tidak tahu lah," ungkapnya.

Rafikin mengakui, bahwa abrasi sudah terjadi sejak lima tahun lalu, dan yang paling besar ialah ketika Kamis dan Jumat pekan lalu.

Saat ini ia pun belum bisa berbuat apa-apa dan hanya tinggal menunggu bagaimana penanganan pemerintah.

"Apalagi nanti kalau pas menjelang tilem. Pokoknya kalau angin kencang pasti ombak tinggi," jelasnya.

Kepala Pelaksana (kalaksa) BPBD Jembrana, I Ketut Eko Susila Artha Permana mengatakan, sejatinya peristiwa ini bukan sekali ini terjadi melainkan sudah sering berulang, terutama saat angin kencang disertai gelombang tinggi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved