Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Makna Dan Pengertian Hari Raya Siwaratri, Malam Hening Peleburan Dosa

Malam Siwaratri itu adalah malam untuk menegaskan kembali kehadiran Sang Hyang Siwa dalam diri kita sebagai Siwa Atman.

Penulis: I Putu Darmendra | Editor: Eviera Paramita Sandi
Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
Ribuan umat Hindu saat mengantre di depan Pura Jagatnata Denpasar, Kamis (26/1/2017) malam dalam rangka sembahyang Siwaratri. 

Oleh: Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR –  “Om swastyastu... tityang wy suta jln.gn guntur no21.Denpsar barat, Bali, jagi matken ring ratu pandite. Agama Hindu ring Bali medwe tradisi hr raya siwa ratri. Ring tepengin purwaning tilem kepitu, galahe sane sampun lintang titiang nenten naenin ngemargiang utawi megadang sekadi semetone sane siosan. Titiang tatas uning arti ciwa ratri punike wantah malam peleburan dosa. Napi dosan titiange nenten preside kelebur yening titiang ten ngemargiang tradisi punike.Yadiastun titiang sampun nginutin sane mewastu trikaya parisuda, inggih wantah amunike pinunas titian. Om, shanti, shanti, shanti, om.”

Kamis (23/1/2020) hari ini, umat Hindu akan merayakan Siwaratri atau malam Siwa, yang diyakini sebagai malam penebusan dosa.

Dalam ajaran agama Hindu, pendekatan kita kepada Tuhan bisa dengan berbagai cara.

Maka disebutkan tidak ada satu jalan yang final untuk menuju Tuhan.

Malam Siwaratri, Malam yang Paling Gelap, Ini Arti Dan Brata Yang Dilakukan Umat Hindu

Silakan lakukan sesuai dengan kemampuan.

Yang terpenting adalah rasa tulus dan ikhlas.

Konsep itu adalah konsep yoga.

Sementara kita di Bali secara umun menjalankan konsep karma dan bakti.

Dengan berbuat baik sudah cukup.

Tapi setiap ritual dan upacara sudah menjadi trend sendiri.

Sehingga saat kita tidak melaksanakan, seakan-akan dosa kita tidak dilebur.

Setelahnya lagi berlumuran dosa.

Percuma juga kan.

Konsep Siwa Ratri tidak hanya begadang semalam suntuk.

Tapi bagaimana membangun kesadaran dalam diri.

Begadang adalah jagra, artinya tangiang, waspada, eling, mulat sarira.

Itu saripati dari perayaan Siwa Ratri.

Inikah Malam Penebusan Dosa?

Siwaratri seperti yang yang sering kita jumpai sebelum-sebelumnya, bukanlah malam yang penuh keheningan, melainkan kebisingan.

Ironis memang, malam yang suci ini justru kerap dijadikan kebut-kebutan di jalan raya hingga pamer pacar di pura.

Sesungguhnya hal tersebut bukanlah suatu wujud perayaan Hari Suci Siwaratri, melain Bhutaratri.

Ketika kita berbicara mengenai Siwaratri, kita harus mengetahui konsepnya.

Dalam aspek ajaran Siwa Sidhanta, Siwa merupakan Tuhan yang memiliki tiga wujud, yakni Parama Siwa, Sadha Siwa dan Siwa Atman.

Sementara dalam ajaran Hindu secara umum, Siwa adalah dewa yang bertugas sebagai pemralina atau pelebur alam semesta beserta isinya.

Sementara Ratri artinya malam atau gelap.

Malam atau kegelapan yang dimaksudkan di sini ialah, ketidaktahuan.

Di sinilah Siwa hadir sebagai penunjuk jalan, dari jalan gelap menuju jalan terang atau kebodohan menuju kecerdasan.

Dewa Siwa-lah sebagai agen perubahan itu.

Dewa Siwa sebagai sebuah kekuatan yang menuntun manusia membangun kualitas menjadi yang lebih baik.

Jadi, bukan berarti Siwaratri adalah malam bergadang semalam suntuk, peleburan dosa dan sebagainya.

Kehadiran Siwa tidak hanya terjadi pada malam Siwaratri, tetapi hadir setiap hari.

Malam Siwaratri itu adalah malam untuk menegaskan kembali kehadiran Sang Hyang Siwa dalam diri kita sebagai Siwa Atman.

Sangat disayangkan, kalau malam Siwaratri ini justru dijadikan ajang kontestasi diri, seperti kebut-kebutan di jalan hingga pamer pacar di pura.

Akhirnya, bukan kecemerlangan yang didapatkan, tapi Bhutaratri (kegelapan).

Dalam ajaran Siwaratri, ada sebuah cerita tentang seorang pemburu bernama Lubdaka.

Sebenarnya, ini merupakan cerita dengan makna ‘bersayap’.

Pemburu yang dimaksudkan di sini bukanlah pemburu dalam arti sebenarnya, tetapi yang dimaksudkan adalah pemburu Tuhan sejati.

Kata sato (binatang) dalam cerita itu merupakan makna dari kebenaran.

Itulah sebenarnya yang terjadi.

Jadi Siwaratri bukanlah sekadar bergadang semalam suntuk.

Bukan karena sudah bergadang sampai pagi, berarti saya sudah melakukan Siwaratri, bukan begitu.

Walaupun dalam teks dikatakan, ‘Lubdaka pun tanpa sengaja begadang pada malam hari itu,’ itu harus dipahami sebagai sebuah tindakan tanpa pamrih.

Bentuk persembahan pada Siwa, (Lubdaka) naik pohon lalu memetiknya satu persatu, itu merupakan cerminan bahwa dia (Lubdaka) berusaha untuk meningkatkan kualitas kesadaran budhinya menuju tingkat manah lalu ahamkara.

Sebab ketika budhi ini menguasai manah, kemudian manah menguasai indria (ahamkara), itulah kehidupan yang diinginkan.

Sebab, tanpa itu semua, berarti kita gagal melaksanakan misi penebusan dosa, karena tidak ada instrumen yang dipakai untuk mencapai moksa. (*)

Artikel ini pernah diterbitkan Tribun Bali pada Senin (15/1/2018)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved