Produksi Bawang Menurun Saat Harganya Meningkat

Produksi Bawang Menurun Saat Harganya Meningkat, Penurunan Produksi Bawang Akibat Cuaca Tak Menentu

Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Foto Andriani ketika memanen bawangnya Minggu (2/2/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Perubahan musim dari kemarau ke penghujan, nampaknya mulai berbuntut pada hasil pertanian, seperti pertanian bawang.

Walaupun kini harganya sedang bagus, umbi yang mampu dihasilkan justru mengalami penurunan.

Hal ini dibenarkan oleh Ni Luh Lisa Andriani.

Petani bawang asal Desa Buahan itu menjelaskan penurunan produksi bawang akibat cuaca tak menentu.

Melihat Kehidupan Alami Monyet di Monkey River Kemenuh Gianyar

19 Kamar Kos Ludes Terbakar, Kebakaran di Belakang Krisna Oleh-Oleh Kuta Diduga Korsleting Listrik

Ramalan Zodiak Cinta 3-8 Februari 2020, Libra Penuh Dengan Cinta, Scorpio Hindari Pertengkaran

Kondisi ini diakui menyebabkan busuk daun.

"Kalau kebanyakan hujan daunnya busuk. Dampaknya ke umbi yang juga menyebabkan busuk," katanya Minggu (2/2/2020).

Dilain sisi, Andriani mengaku harga bawang saat ini justru cenderung bagus.

Pasalnya untuk harga pasaran saat ini Rp. 25 ribu per kilo.

"Kalau dibandingkan panen sebelumnya harga itu cenderung turun. Karena dua bulan lalu, harganya mencapai Rp. 30 ribu per kilo. Namun dengan harga Rp. 25 ribu, itu masih tergolong menguntungkan," ucapnya.

Selaras dengan Andriani, petani lainnya bernama Wayan Suardi pun mengakui harga bawang saat ini cenderung bagus.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved