Faktor Keturunannya Kecil, Kanker Bisa Dipicu Gaya Hidup
“Faktor keturunan ada tetapi bukan penyakit keturunan dan masyarakat harus tau,” ujar Sudarsa
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Laporan Wartawan, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam memperingati World Cancer Day, RSUP Sanglah mengadakan Cancer Walk, Senam Kanker, Talkshow dan Musik yang diselenggarakan di Lapangan RSUP Sanglah, Jumat (7/2/2020).
Kegiatan ini dilakukan memperingati Hari Kanker Sedunia atau World Cancer Day.
Ketua panitia World Cancer Day, Dr. I Wayan Sudarsa, mengatakan acara ini diadakan satu tahun sekali yang dimulai pukul 06.00 WITA.
Adapun rangkaian dari acara ini adalah jalan santai mengintari areal rumah sakit, senam kanker, talkshow, dan musik.
Acara ini diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari para survival kanker dan semua jajaran staf RSUP Sanglah.
• Dibuang Sayang, Yabes Tanuri Sebut Perkembangan Terbaru Irfan Bachdim di Bali United
• Komentari Hasil Otopsi Lina Jubaedah, Rizky Febian: Sekarang Mama Lebih Tenang
• Dokter Pertama yang Peringatkan Virus Corona Meninggal Dunia
Sudarsa mengatakan, tujuan utama dari acara ini untuk mengingatkan kepada siapapun, baik petugas kesehatan atau masyarakat, agar selalu ingat bahwa kanker merupakan masalah kesehatan dunia.
Karena kejadiannya selalu meningkat terus.
Sementara itu, angka kematian kanker masih tinggi sehingga seluruh dunia menganggap kanker ini merupakan masalah utama dalam kesehatan.
Pemicu penyakit kanker sangat banyak.
Satu di antara faktornya adalah gaya hidup, pola makan, infeksi dan polusi.
Di indonesia, pencegahan dini kanker sudah dicanangkan sejak dini.
Dari KEMENKES pun juga sudah membentuk suatu direktoral penyakit tidak menular.
Pencegahan atau deteksi dini kanker sangat penting. Semua kanker bisa dicegah apabila dari awal sudah ditemukan.
Sedangkan jika kanker ditemukan pada stadium yang sudah lanjut, maka pengobatannya akan semakin sulit dan membutuhkan biaya yang lebih besar.
Sayangnya di Indonesia, biasanya pasien kanker yang datang sudah dalam stadium yang lanjut. Sehingga membutuhkan biaya yang lebih besar.
Sudarsa menambahkan, kanker bukan penyakit menular dan faktor keturunannya kecil.
Jadi misalkan ada keluarga yang terkena kanker payudara faktor keturunannya hanya 5%.
“Faktor keturunan ada tetapi bukan penyakit keturunan dan masyarakat harus tau,” ujar Sudarsa
Selain itu, pencegahan kanker bisa dimulai dengan hindari faktor-faktor yang berisiko kanker.
Penyakit kanker sendiri, pada umumnya mengenai usia lanjut. Namun sekarang sudah bergeser ke usia produktif karena faktor gaya hidup.
Dr. Sudarsa mengatakan, kebanyakan pasien sekarang lebih mencari pengobatan alternatif dibandingkan ke dokter.
Hal itu yang menyebabkan keterlambatan penanganan.
Menurut data 60-70% keterlambatan pasien datang ke rumah sakit karena pasien lebih memilih ke pengobatan alternatif dahulu.
Sehingga saat datang ke rumah sakit kankernya menjadi stadium lanjut.
Edukasi di masyarakat tentang penyakit kanker harus lebih ditingkatkan lagi. Agar masyarakat bisa menjalani pola hidup yang lebih sehat lagi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kegiatan-world-cancer-day-di-rsup-sanglah.jpg)