Lahan Balai Pertemuan Jadi Sengketa di Kerobokan, Warga Pertanyakan Tanah Fasum Dijadikan Hak Milik

Sebidang lahan yang digunakan sebagai bangunan balai pertemuan warga Perumahan Kesambi Baru, menjadi objek sengketa

Lahan Balai Pertemuan Jadi Sengketa di Kerobokan, Warga Pertanyakan Tanah Fasum Dijadikan Hak Milik
Tribun Bali/Wema Satyadinata
Pertemuan-Warga Perumahan Kesambi Baru menggelar pertemuan dengan pemilik lahan Agus Trisna Hartanto untuk mencari solusi atas sengketa lahan di Balai Pertemuan Perumahan Kesambi Baru, Kelurahan Kerobokan, Kabupaten Badung, Bali, Rabu (12/2/2020) malam. Lahan Balai Pertemuan Jadi Sengketa di Kerobokan, Warga Pertanyakan Tanah Fasum Dijadikan Hak Milik 

Lahan Balai Pertemuan Jadi Sengketa di Kerobokan, Warga Pertanyakan Tanah Fasum Dijadikan Hak Milik

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Sebidang lahan yang digunakan sebagai bangunan balai pertemuan warga Perumahan Kesambi Baru, Kelurahan Kerobokan, Kabupaten Badung, Bali, menjadi objek sengketa antara warga perumahan dengan pemilik lahan Agus Trisna Hartanto.

Untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut, pemilik lahan dan warga kemudian menggelar pertemuan pada Rabu (12/2/2020) malam, dihadiri Agus Trisna Hartanto, Kepala Lingkungan Banjar Kesambi, Lurah Kerobokan, dan warga perumahan.

Perwakilan Keluarga Pemilik Lahan Johan Ponco menjelaskan kehadiran Agus dengan niatan baik untuk menghadiri mediasi bersama warga, karena sampai saat ini dari segi hukum Agus mempunyai bukti atas kepemilikan tanah yang disengketakan. 

Pihaknya mengklaim status lahan tersebut adalah hak milik sejak tahun 1993, yang dibelinya tahun 1986 dari PT Karimunadi, sebagai pengembang perumahan. 

Kepemilikan atas lahan tersebut dibuktikan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Badung SK.285/HM/BPN.51.03.2013 dan sertifikat Hak Milik no.14791.

Sebelumnya, tanggal 6 Februari 2020, Agus sudah memberikan surat kepada kelian lingkungan perumahan untuk mengosongkan isi dan balai pertemuan yang berada dilahan miliknya dalam waktu tujuh hari, sejak surat dilayangkan. 

“Maka dari itu dengan adanya pertemuan kita mencoba mencapai titik tengah dan solusinya,” kata Johan saat ditemui seusai pertemuan di balai pertemuan Perumahan Kesambi Baru.

Menurutnya, warga juga diberi kesempatan mendapatkan bukti-bukti lain seandainya memang lahan tersebut dulu dalam pengembangan perumahan merupakan tanah fasilitas umum (fasum).

Selanjutnya, karena belum ada keputusan dalam pertemuan itu, pihak pemilik lahan akan memberikan waktu kepada warga mencari bukti-bukti lain.

Halaman
123
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved