Sejak Penundaan Penerbangan ke China, Load Factor Sriwijawa Air Turun Hingga 20 Persen

Khusus pangsa pasar penumpang dari China, maskapai Sriwijaya Air mengaku mengalami potensi load factor lost mencapai 20 persen

Sejak Penundaan Penerbangan ke China, Load Factor Sriwijawa Air Turun Hingga 20 Persen
Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin
Direktur Utama Sriwijaya Air saat ditemui awak media di kawasan Kuta, Badung, Bali, Jumat (14/2/2020). Sejak Penundaan Penerbangan ke China, Load Factor Sriwijawa Air Turun Hingga 20 Persen 

Sejak Penundaan Penerbangan ke China, Load Factor Sriwijawa Air Turun Hingga 20 Persen

Laporan Wartawan Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Ditundanya sementara penerbangan dari Indonesia ke China (mainland) sebagai langkah pencegahan masuknya virus corona sejak 5 Februari 2020 lalu, sejumlah maskapai mengaku mengalami penurunan load factor (keterisian penumpang) untuk penerbangan internasional.

Khusus pangsa pasar penumpang dari China, maskapai Sriwijaya Air mengaku mengalami potensi load factor lost mencapai 20 persen.

Dimana penerbangan internasional khususnya ke China yang dilayani Sriwijaya Air lebih banyak direct flight (penerbangan langsung) dari Bali melalui Bandara Ngurah Rai.

Tercatat 260 Penerbangan Rute Denpasar-China Tidak Beroperasi Sejak 5 Februari 2020 Lalu

Kunjungan Turis China Turun, Pemprov Bali Sambut Positif Rencana Diskon Penerbangan ke Bali

“Penurunan penumpangnya (load factor lost khusus China)? Kurang lebih sampai 20 persen secara keseluruhan. Saya kira semuanya akan merasakan dampaknya, jadi bukan hanya (maskapai) penerbangan lokal Indonesia saja, tapi mancanegara juga merasakan dampaknya,” imbuh Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson Jauwena, saat ditemui di kawasan Kuta, Badung, Bali, Jumat (14/2/2020).

"Kami ke China 56 kali flight dalam kondisi normal per bulan, untuk load factor dalam satu bulan tinggal 56 flight dikalikan 189 seat. Namun itu low season, kalau peak season bisa tambah lagi," tambahnya.

Namun rute yang dilayani Sriwijaya Air tersebut adalah charter flight dari Denpasar ke 9 kota di China.

“Dalam kondisi normal setiap flight penuh, tapi pada saat kondisi di sana liburan seperti Tahun Baru China itu, lebih banyak lagi. Makanya pada saat-saat tertentu ada extra flight ke China. Load factor-nya hampir 100 persen, satu pesawat ada 189 penumpang, kalau bulan-bulan sepi 56 flight sebulan, tapi kalau ramai bisa sampai 70 flight sebulan,” ungkap Jefferson.

Akibat Virus Corona, Harga Sekotak Masker di Indonesia Lebih Mahal Daripada Satu Gram Emas

Mahasiswa Bali Diduga Terinfeksi Corona Sekembalinya dari Malaysia, Kini Diisolasi di Maluku

Guna mengisi kekosongan rute penerbangan internasional, Sriwijaya Air mengalihkannya ke rute-rute domestik.

Sebelumnya, rute-rute baru domestik sudah direncanakan tahun 2020, namun karena kondisi seperti ini akhirnya dipercepat.

“Tadinya, kapan akan dibuka, tapi kami percepat. Seperti rute Jakarta-Malang satu kali sehari akan jadi dua kali sehari. Kemudian ada juga Jakarta-Lampung, Pangkal Pinang dan rute lain. Banyak rute yang ditinggalkan kami buka kembali termasuk rute Jogja-Jambi,” paparnya.

Selain itu, penurunan tarif pesawat juga akan jadi opsi atau pilihan selanjutnya Sriwijaya Air agar penurunan penumpang tidak makin tinggi.

Pihaknya menyetujui dan akan mengikuti arahan Menteri Perhubungan Budi Karyasumadi.

“Kami siap dukung (turunkan tarif), tetapi kan tidak bisa hanya dari industri penerbangan saja. Industri lain juga harus ada dukungan juga. Tentu penurunan tarif dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku, tarif batas atas dan tarif batas bawah,” imbuh Jefferson.

(*)

Penulis: Zaenal Nur Arifin
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved