Jelang Penampahan Galungan, Ini Beberapa Fakta ASF yang Sebabkan Ribuan Babi Mati di Bali

Berikut beberapa fakta yang perlu Anda ketahui terkait African Swine Fever (ASF) agar acara nampah be celeng Anda aman saat penampahan Galungan

Jelang Penampahan Galungan, Ini Beberapa Fakta ASF yang Sebabkan Ribuan Babi Mati di Bali
Tribun Bali/Rizal Fanany
Babi guling. 

TRIBUN-BALI.COM – Dalam hitungan hari, umat Hindu Bali akan merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Saat penampan Galungan atau sehari sebelum Galungan, orang Bali sangat lekat dengan tradisi mebat alias membuat masakan khas Bali secara bersama-sama.

Salah-satu yang sangat populer adalah memasak babi guling atau orang Bali menyebutnya: nampah be celeng.

Namun, ribuan babi di Bali mati mendadak sejak Desember 2019 lalu yang diduga akibat terjangkit African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika.

Peternak babi menjerit.

Terbaru, untuk meredam kecemasan masyarakat dalam mengonsumsi daging babi, pemerintah daerah dari provinsi hingga kabupaten/kota di Bali kompak melakukan kampanye makan daging babi sepuasnya.

Kegiatan makan daging babi bersama yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Jum’at (7/2/2020)
Kegiatan makan daging babi bersama yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Jum’at (7/2/2020) (Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana)

Berikut adalah beberapa fakta yang perlu Anda ketahui terkait African Swine Fever (ASF) agar acara nampah be celeng Anda aman saat penampahan Galungan nanti:

Kemunculan ASF di Indonesia
Dilansir dari laman resmi FAO, African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika adalah penyakit babi yang sangat menular.

Penyakit ini disebabkan oleh Iridovirus dari keluarga Asfarviridae yang sangat kuat untuk inaktivasi fisik dan kimia.

Zat ini dapat bertahan lama dalam darah, feses dan jaringan.

Pada pertengahan Desember 2019 lalu, BBC melaporkan Indonesia menjadi negara Asia terbaru yang menghadapi wabah demam babi Afrika.

Kementerian Pertanian ketika itu mengatakan hampir 30.000 babi telah mati karena penyakit di Sumatera Utara.

Sementara itu, di Bali diketahui sejumlah babi milik peternak di Pesanggaran, Denpasar mati mendadak sejak Pada 11 Desember 2019.

Kematian babi secara mendadak dan misterius kemudian secara cepat menjalar ke daerah-daerah lain di Bali, seperti Badung, Tabanan, Buleleng, dan Gianyar.

Halaman
12
Penulis: Widyartha Suryawan
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved