Breaking News:

Hari Raya Nyepi

Raja Buduh, Tedung Agung, hingga Meme Dewa Ratu: Inilah Kisah Ogoh-ogoh yang Paling Dinanti-nanti

Berikut adalah sekelumit kisah ketiga ogoh-ogoh tersebut, dari Raja Buduh, Tedung Agung, hingga Meme Dewa Ratu.

IG Kedux Garage
Sketsa ogoh-ogoh "Tedung Agung" ST Yowana Saka Bhuwana, Banjar Tainsiat Denpasar. 

Di sanalah kemudian ia terbersit tentang payung yang dalam bahasa Balinya disebut tedung atau pajeng, yang bisa digunakan baik saat cuaca panas atau ketika hujan turun.

“Pajeng (tedung) itu biasa digunakan untuk kedua cuaca, sehingga kepikiran dengan pajeng klasik yang ada di Bali,” kata Kedux.

Selain itu, jika dikaitkan dengan situasi kekinian maka Tedung Agung dinilai sejalan dengan konsep kosmologi Tri Hita Karana.

"Jika Tedung dilihat dari konsep kepemimpinan, Tedung itu sendiri melambangkan sosok yang mengayomi masyarakatnya dan jari-jari yang mengembang pada setiap Tedung merupakan melambangkan gotong royong yang terfokus pada satu poros yang merupakan satu titik tujuan."

Menurut Kedux, banyak hal yang bisa dikembangkan dari ornamen-ornamen tedung. Termasuk hiasan dan ukiran-ukirannya yang bakal diadaptasi ke dalam wujud ogoh-ogoh.

Ogoh-ogoh Tedung Adung dibuat menggunakan teknik robotic. Layak ditunggu hasil akhir ogoh-ogoh ini.

3. Meme Dewa Ratu
Dibanding dua ogoh-ogoh sebelumnya, konsep ogoh-ogoh "Meme Dewa Ratu" baru dipublikasikan beberapa hari yang lalu.

Ogoh-ogoh ST Gemeh Indah, Banjar Gemeh Denpasar ini dikonsep oleh Putu Marmar Herayukti.

Marmar termasuk salah-satu tokoh seniman ogoh-ogoh yang gencar mengampanyekan ogoh-ogoh ramah lingkungan di Bali.

Sebagaimana diketahui, ogoh-ogoh di Bali sempat menggunakan bahan dasar gabus atau stereofoam yang tak ramah lingkungan. Namun, kini kesadaran untuk menggunakan bahan ramah lingkungan mulai tumbuh.

Halaman
1234
Penulis: Widyartha Suryawan
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved