Denpasar Barat dan Selatan Masuk Kategori Level Tinggi Rawan Banjir
Banjir selain mengganggu aktivitas warga banyak dampak yang ditimbulkan seperti munculnya berbagai macam penyakit.
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Puncak musim penghujan diperkirakan masih berlangsung hingga awal bulan Maret 2020 mendatang, salah satu bencana yang diwaspadai adalah banjir.
Banjir selain mengganggu aktivitas warga banyak dampak yang ditimbulkan seperti munculnya berbagai macam penyakit.
Kota Denpasar mengalami perkembangan yang cukup pesat, dengan berbagai fungsi seperti pendidikan, perdagangan dan pariwisata.
Di lain sisi, perubahan tata guna lahan dan pesatnya perkembangan penduduk menimbulkan ekses negatif.
Daya resap tanah berkurang dan kawasan rawan banjir meningkat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ida Bagus Joni Ariwibawa menerangkan, wilayah Denpasar Barat dan Denpasar Selatan menjadi titik yang potensi rawan banjir level tinggi, total ada 4 desa.
"Denpasar Barat ada di Pemecutan Klod, Padang Sambian Klod, dan Padang Sambian, di Denpasar Selatan ada di Sanur," kata Joni saat dijumpai Tribun Bali di ruang kerjanya, Selasa (25/2/2020).
Sedangkan, jika dilihat dari seluruh potensi banjir dari tingkat rendah, sedang dan berat, tersebar di 43 desa di Denpasar.
"Level tinggi ada 4 Desa, sedang 12 Desa dan rendah 27 desa," katanya
Joni menambahkan ada empat parameter yang digunakan untuk mengukur kerawanan banjir yakni peristiwa banjir pada beberapa waktu yang lalu, intensitas curah hujan, ketinggian wilayah dan kepadatan penduduk.
"Dari hasil penelitian ada 9 persen wilayah di Denpasar yang berpotensi rawan banjir level tinggi, level sedang 28 persen, level rendah 63 persen dari 43 desa di Denpasar," jelas dia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/banjir-denpasar_20180123_150129.jpg)