Ratusan Personel BPBD Disiagakan Saat Pangerepukan Pawai Ogoh-Ogoh, Waspadai Gesekan Antar Kelompok

OPD Kota Denpasar bersama unsur TNI, Polri, Pecalang bakal menggelar apel kesiapsiagaan untuk dukungan kelancaran pangerupukan.

Ratusan Personel BPBD Disiagakan Saat Pangerepukan Pawai Ogoh-Ogoh, Waspadai Gesekan Antar Kelompok
TRIBUN BALI/ I PUTU DARMENDRA
Suasana ramai sudah terlihat di lapangan Banjar Madangan Kelod, Desa Petak Kelod Gianyar. Cenik, bajang, tua alias ketog semprong berduyun-berdatangan. Enam ogoh-ogoh berukuran raksasa sudah berdiri gagah. Para krama Banjar pun mulai bersiap. 
 
Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hari Raya Nyepi umat Hindu tahun ini jatuh pada tanggal 25 Maret 2020.
Sehari sebelumnya, umat di Bali melaksanakan upacara pangerupukan yang dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh.
Pawai ogoh-ogoh disimbolkan dengan arak-arakan patung raksasa berwujud buta kala yang sosoknya menakutkan.
Tujuannya adalah mengusir buta kala atau energi kegelapan dari lingkungan sekitar atau pemurnian diri dalam keadaan suci saat Hari Raya Suci Nyepi.
Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) Kota Denpasar bersama unsur TNI, Polri, Pecalang bakal menggelar apel kesiapsiagaan untuk dukungan kelancaran pangerupukan.
"Kami bergabung dengan Satpol Pamong Praja, tanggal 16 Maret nanti ada apel kesiapsiagaan Hari Raya Nyepi bersama unsur lainnya seperti TNI dan Polri, hingga pecalang,"  kata Joni saat dijumpai Tribun Bali, Selasa (25/2/2020).
BPBD Kota Denpasar menyiapkan armada unit pemadam kebakaran dan ambulance dari empat Posko.
Total ada seratusan personel yang siap menjaga perayaan pengrepukan dari pagi hingga malam.
"Kami siagakan personel di Pos Induk, Renon, Mahendradata, dan Ubung stanby regu Damkar ditambah regu ambluance dan mobil Jenazah. Dibantu PMI, Puskesmas, jadi ambluance ada 7 pos dan Damkar ada 4 pos, Damkar setiap regu shiftnya ada 8 orang setiap pos ada 2 shift, total personel selama 24 jam ada 108 orang," paparnya.
Lanjut berkata, dalam pawai ogoh-ogoh tak jarang mereka dari satu kelompok dengan kelompok lain saling bersinggungan hingga menimbulkan gesekan yang disebabkan pesta minuman keras sebelum arak-arakan.
Diimbau untuk peserta tidak pesta miras atau dalam kondisi mabuk saat melaksanakan pawai ogoh-ogoh.
"Bahayanya orang berkelahi, biasanya gesekan antar kelompok pengusung ogoh-ogoh, makanya Pemkot melarang dengan sound system house music, biasanya sambil minum minuman keras, kalau gamelan kan kecil kemungkinan gesekan, namun sudah semakin berkurang, tapi diwaspadai," jelasnya
Peserta atau penonton sakit atau pingsan hingga kecelakaan saat perayaan juga menjadi perhatian khusus BPBD, oleh karena itu pihaknya menyiagakan petugas ambulance.
Sementara, personel Satpol PP dan Kepolisian menyebar ke berbagai titik pawai guna menjaga keamanan dan ketertiban peserta maupun penonton.
Pantauan Tribun-Bali.com di Kota Denpasar, Bali, kelompok masyarakat di banjar atau komunitas kini tengah disibukkan dengan proses pembuatan ogoh-ogoh untuk ditampilkan saat pangerupukan nanti.
Untuk diketahui, saat Hari Raya Suci Nyepi umat Hindu melakukan Catur Brapa Penyepian meliputi Amati Geni (tidak menggunakan dan atau menyalakan api), Amati Karya ( tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak berpergian), dan Amati Lelanguan (tidak melakukan hiburan). (*)
Penulis: Adrian Amurwonegoro
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved