Halo Matahari di Kuta

BREAKING NEWS:Fenomena Halo Matahari Terjadi Siang Ini, BMKG:Beruntung Masyarakat yang Dapat Melihat

Fenomena ini menjadi perhatian bagi sejumlah masyarakat karena tidak sering terjadi.

TRIBUN BALI/RIZAL FANANY
Fenomena Halo Matahari terlihat di kawasan Kuta, Badung, Selasa (10/3/2020). Fenomena halo matahari yang merupakan fenomena optis berupa lingkaran cahaya di sekitar matahari yang muncul karena ada pembiasan sinar matahari oleh awan tipis cirrus yang berada pada ketinggian sekitar 6.000 meter dari permukaan bumi. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Kadek Rika Riyanti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Siang ini baru saja terjadi fenomena Halo Matahari yang tampak di langit kawasan Kuta, Badung, Selasa (10/3/2020).

Fenomena ini menjadi perhatian bagi sejumlah masyarakat karena tidak sering terjadi.

Dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kepala Bidang Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Iman Faturahman mengatakan fenomena Halo Matahari merupakan fenomena optis karena adanya pembiasan/perpendaran sinar matahari oleh Awan Cirrus (awan tinggi) yang mengandung sedikit uap air dan butiran es.

Bale Gede Terbakar, I Made Suarka Alami Kerugian Sekitar Rp 150 Juta

Puncak Musim Hujan di Bali, Waspadai Cuaca Ekstrem Dan Sambaran Petir di Wilayah Terbuka

Satpol PP Jembrana Gelar Kegiatan Pembersihan Puluhan Baliho Hingga Pamflet Kadaluwarsa

Fenomena ini dikatakan merupakan fenomena biasa yang tidak menunjukkan sesuatu hal lain yang (bencana).

Iman Faturahman juga mengatakan bahwa tidak semua wilayah di Indonesia, terutama di Bali yang dapat melihatnya.

“Tidak semua wilayah di Bali bisa melihatnya, misalnya seperti yang terjadi di Kuta, dari Bangli tidak bisa melihat,” katanya, Selasa (10/3/2020).

Hal ini bergantung pada ada tidaknya Awan Cirrus di wilayah tersebut sehingga dapat memunculkan fenomena ini.

Selain itu, fenomena Halo juga berlangsung hanya sementara waktu dan akan segera berakhir setelah menghilangnya awan cirrus atau ditutupi oleh awan-awan lain.

Lebih jauh, Iman Faturahman mengatakan selain didukung oleh Awan Cirrus, terjadinya fenomena Halo ini berdasarkan atmosfer yang stabil dimana di sekitar cenderung cerah.

Ia juga menambahkan, bahwa masyarakat yang dapat melihatnya cukup beruntung.

“Itu kan sangat bagus,” pungkasnya.

Walaupun tidak persis sama seperti Gerhana Matahari, Iman Faturahman tidak menganjurkan masyarakat untuk melihatnya dengan mata telanjang.

“Sebaiknya tidak (melihat dengan mata telanjang), karena itu tetap saja ada pancaran sinar UV dari matahari dan ada radiasi. Bisa berbahaya untuk mata,” pungkasnya. (*).

Penulis: Ni Kadek Rika Riyanti
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved