Breaking News:

Corona di Indonesia

Pro Kontra Pawai di Tengah Merebaknya Virus Corona, Ini Sejarah dan Perkembangan Ogoh-ogoh di Bali

Tim menilai melakukan penilaian terhadap ogoh-ogoh Tedung Agung di Banjar Tainsiat, Denpasar, Rabu (18/3). Pengarakan ogoh-ogoh pada malam Pengerupuka

Tribun Bali/Putu Supartika
Tim menilai melakukan penilaian terhadap ogoh-ogoh Tedung Agung di Banjar Tainsiat, Denpasar, Rabu (18/3). Pengarakan ogoh-ogoh pada malam Pengerupukan Nyepi tahun ini masih menjadi pro-kontra. 

TRIBUN-BALI.COM - Sejumlah negara telah mengeluarkan kebijakan karantina (lockdown) untuk meminimalisir risiko penyebaran virus coroma yang menyebabkan penyakit Covid-19.

Demikian pula perusahaan dan instansi pemerintahan mulai memberlakukan kebijakan kerja dari rumah atau work from home bagi para pegawainya.

World Health Organization (WHO) maupun pemerintah Indonesia mengeluarkan himbauan untuk kerja dari rumah serta melakukan social distancing.

Kebijakan tersebut diharapkan mendapat dukungan dari segenap warga, misalnya dengan menghindari kerumunan yang rentan menyebabkan penyebaran virus.

Melasti di Tengah Wabah Corona, PHDI: Cukup Ngayat Jika Jauh dari Lokasi Ini

Pro Kontra Pawai Ogoh-ogoh di Kota Denpasar, Ahli: Sebaiknya Ditiadakan Demi Pencegahan Covid-19

Umat Hindu di Bali yang akan melaksanakan malam pengerupukan serangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1942 juga diimbau untuk menghindari kerumunan.

Selasa (17/3/2020), Pemerintah Provinsi Bali bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali dan Majelis Desa Adat (MDA) telah menetapkan dan mengatur kebijakan terkait pengarakan ogoh-ogoh pada Pengrupukan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1942.

Dalam Surat Edaran bersama tersebut disebutkan pengarakan ogoh-ogoh bukan merupakan rangkaian Hari Suci Nyepi sehingga tidak wajib dilaksanakan.

Karena itu pengarakan ogoh-ogoh sebaiknya tidak dilaksanakan. Terlebih lagi pengarakan ogoh-ogoh akan melibatkan banyak orang, dan itu memiliki risiko persebaran virus.

Namun, lanjut Surat Edaran itu, apabila tetap dilaksanakan ada ketentuan yang harus ditaati.

Di antaranya waktu pengarakan yang dibatasi dari pukul 17.00 Wita hingga 19.00 Wita dan tempat pelaksanaan dibatasi hanya di wewidangan banjar setempat di bawah tanggung jawab bendesa adat dan prajuru banjar adat setempat.

Halaman
1234
Penulis: Widyartha Suryawan
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved