Breaking News:

WIKI BALI

WIKI BALI - 6 Ogoh-Ogoh Ramah Lingkungan di Kota Denpasar Menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1942

STT di Denpasar menuangkan ide kreatif membuat ogoh-ogoh dengan bahan ramah lingkungan. Berikut 6 ogoh-ogoh berbahan ramah lingkungan di Kota Denpasar

Tribun Bali/I Putu Supartika
Ogoh-ogoh Sanghyang Penyalin Banjar Dangin Peken Sanur, Denpasar, Bali. 

Arsitek ogoh-ogoh 'Subrada Larung', Kadek Doni Suarsana menjelaskan pembuatan ogoh-ogoh memakan waktu selama kurang lebih hampir 3 bulan terhitung dimulai sejak Januari 2020.

Bahan ramah lingkungan yang digunakan yaitu dari kertas bekas, plester, bambu, kardus dan kerupuk udang.

Alasan digunakannya kerupuk udang untuk sisik karakter ogoh-ogoh adalah karena mudah didapatkan.

Dalam pembuatan ogoh-ogoh 'Subrada Larung' menghabiskan kerupuk udang sebanyak 25 kilogram.

Kerupuk udang sendiri digunakan pada bagian sisik karakter naga dan badan raksasa.

Yaitu pada bagian tangan, punggung, ekor, dan kaki karakter naga.

Pada beberapa bagian tubuh karakter raksasa.

Bagian tersulit dari penggarapan ogoh-ogoh 'Subrada Larung' adalah pembuatan teknologi hingga pihaknya merangkai selama sebulan penuh.

Selain itu, juga mengalami kesulitan saat proses penempelan kerupuk udang karena susah dan tidak cukup sekali saja memberikan lem tetapi bisa sampai tiga kali.

4.     Sanghyang Penyalin

Warga memotret Ogoh-Ogoh Sang Hyang Penyalin di Banjar Dangin Peken, Sanur,Denpasar, Senin (16/3/2020).
Warga memotret Ogoh-Ogoh Sang Hyang Penyalin di Banjar Dangin Peken, Sanur,Denpasar, Senin (16/3/2020). (Tribun Bali/AA Seri Kusniarti)

Ogoh-ogoh ‘Sanghyang Penyalin‘ karya ST Dhananjaya, Banjar Dangin Peken, Desa Sanur Kauh, Denpasar, Bali seluruh badannya menggunakan penyalin atau rotan yang dianyam.

Ogoh-ogoh ini merupakan perwujudan Bhanaspati Raja dengan satu kaki menyentuh tanah dan satu lainnya mengambang dan dibagian belakang terdapat ekor.

Rotan ini pun tak diberi warna dan tetap menampilkan warna alami dari rotan tersebut.

Sementara itu, untuk tapel ogoh-ogoh menggunakan kertas koran dan tanah liat, sedangkan ornamen atau hiasan menggunakan kelopak batang pisang serta kelopak bambu.

Rotan yang ujungnya berisi gangsing dan janur itu seolah hidup mengikuti alunan lagu, meliuk-liuk.

Ide awal pembuatan ogoh-ogoh dengan rotan ini bermula dari sisa rotan yang digunakan untuk membuat instalasi.

Ogoh-ogoh karya Apel Hendrawan ini pun minim bugdet dan tak lebih dari Rp 20 juta.

5.     Ngeruak

Ogoh-ogoh Ngeruak Banjar Yangbatu Kauh Denpasar
Ogoh-ogoh Ngeruak Banjar Yangbatu Kauh Denpasar (Tribun Bali/Putu Supartika)

Ogoh-Ogoh karya ST Eka Dharma Canti, Banjar Yangbatu Kauh, Denpasar Timur, menggangkat tema Ngeruak.

Yang menceritakan sosok bhuta kala perempuan terlihat kurus kering dengan lidah menjulur serta rambut putih.

Sementara sosok bhuta kala lelaki juga tak kalah seram dengan tubuh agak gempal dan tarin yang runcing.

Uniknya dalam ogoh-ogoh ini, yakni warna pada bhuta kala lelaki menggunakan bunga kamboja kering.

Bunga yang digunakan yakni 2.5 kilogram.

Dalam pengerjaan, suasana gotong royong kental terasa.

Ada yang mengerjakan body, pepayasan, ukiran dan lain sebagainya dengan bimbingan undagi utama I Nyoman Wista Darmada dan I Wayan Boby Agus Sanjaya.

Sehingga selain dimanfaatkan untuk pembuatan ogoh-ogoh, ajang ini juga dapat memberikan bekal edukasi dan ketrampilan bagi anggota STT.

Seperti halnya membuat gantungan kunci dari ukiran kertas, serta membuat keterampilan lainya yang memiliki nilai ekonomis.

Untuk bahan pun dapat dikatakan unik, pasalnya selain menggunakan bambu dan kertas, dalam menciptakan tekstur juga turut digunakan tisue dan bunga jepun yang sudah kering. 

Terdapat pula tali enceng gondok, serabut kelapa, pelepah pisang, daun pisang kering dan banyak lagi bahan alam yang digunakan sebagai wujud ramah lingkungan

6.     Sang Bakasura

STT Perabhu, Banjar Ratna Bhuana, Sumerta Kauh, Denpasar Timur membuat ogoh-ogoh ini pun diberinama Sang Bakasura.

Untuk Pangerupukan tahun ini, mereka menggunakan bahan ramah lingkungan dalam pembuatan ogoh-ogohnya

Dimana pada tahun ini pemuda STT Perabhu mulai ngulat untuk kerangka ogoh-ogoh, kuku ogoh-ogoh dari serabut kelapa, untuk warna kulit dari Bakasura menggunakan kulit telur yang diminta dari pedagang nasi goreng maupun martabak.

Bahkan untuk mewarnai kulit Bakasura ini, diperlukan kurang lebih sebanyak 30 kg kulit telur.

Nantinya kulit telur ini akan dipernis dan ditambahi shading untuk memberikan efek bayangan.

Selain itu, untuk tapel juga menggunakan serabut kelapa, serta untuk saput menggunakan tapis (ijuk pohon kelapa) serta kembennya menggunakan motif lukisan kamasan khas Klungkung serta bagian kotaknya rencananya akan menggunakan kulit kacang tanah.

Tak hanya menggunakan bahan ramah lingkungan, ogoh-ogoh ini juga bisa membelah diri.

Bagian yang membelah diri yakni Sang Bakasura, dimana saat tubuhnya terbelah dari dalam tubuhnya keluar Krisna dengan membwa cakra serta menjunjung kepala Bakasura.

Untuk membuat ogoh-ogoh terbelah ini dirinya menggunakan dinamo pompa air serta smart breaker.

Selain itu untuk mengendalikannya ia juga menggunakan aplikasi android dan menyambungkannya menggunakan hotspot.

Bahkan untuk pembuatan ogoh-ogoh ini anggarannya kurang dari Rp 15 juta, dimana untuk membeli mesin Rp 3 juta, dan konstruksi Rp 5 juta serta keperluan lainnya.

Sementara tinggi ogoh-ogoh saat tubuh Bakasura tertutup yakni 4.2 meter, sedangkan jika dibuka dan Krisna keluar menjadi 4.5 meter. (*)

Penulis: Noviana Windri
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved