Netralkan Alam Semesta dari Wabah Penyakit, Krama Desa Tulang Nyuh Gelar Upacara Mapepada & Tawur

Diharapkan pelaksanaan upacara mapepada dan tawur agung dapat menetralkan alam semesta dari wabah dan penyakit corona yang saat ini melanda dunia

Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Wema Satya Dinata

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Ritual mapepada di Catus Pata Semarapura  tetap dilaksanakan, Senin (23/3/2020).

Hanya saja, jumlah krama yang mengikuti ritual serangkaian tawur agung terseut dibatasi.

Diharapkan pelaksanaan upacara mapepada dan tawur agung dapat menetralkan alam semesta dari wabah dan penyakit corona yang saat ini melanda dunia.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, upacara mepepada di Catus Pata di Pusat Kota Semarapura, Selasa (5/3/2020) tampak lebih lengang.

Guru Besar Epidemiologi UI Tutup Usia dalam Status PDP, Pihak Kampus Tunggu Hasil Uji Laboratorium

Penerapan Social Distancing di Puskesmas 2 Denpasar Barat, Pendaftaran dengan Sistem Online

Kegiatan tersebut tidak dihadiri muspida ataupun OPD seperti biasanya, hanya beberapa krama Desa Adat Tulang Nyuh yang menjadi pelaksana upacara tersebut.

Meski ada kebijakan "social distance", ritual serangkaian hari raya Nyepi itu tetap dilaksanakan.

 Jika biasanya ratusan, saat itu hanya puluhan warga yang mengikuti prosesi sakral tersebut

" Kami mengikuti arahan pemerintah, dengan membatasi krama yang ikut dalam prosesi ini. Bahkan sarana upakara juga diangkut dengan mobil truck TNI, untuk menghindari warga lalu lalang mengangkut sarana upakara ke Carus Pata Semarapura," ujar Panitia Upacara  Mapepada tersebut, Dewa Ketut Soma.

Tahun ini, ritual mepepada dilaksanakan oleh Desa Adat Tulang Nyuh, Klungkung dan dipuput Ida Dalem Surya Darma Sogata dari Puri Klungkung.

Dalam ritual itu, krama berjalan mengitari catus pata sembari membawa berbagai sarana upacara termasuk wewalungan (hewan sarana upacara) seperti sapi, kambing, babi dan lainnya.

Meskipun jumlah krama yang mengikuti ritual itu terbatas, namun tidak mengurangi makna dari upacara tersebut.

Menurutnya,  upacara mapepada merupakan upacara untuk mensucikan wewalungan (hewan korban),  yang digunakan untuk melengkapi rangkaian upacara tawur agung kesanga.

" Rangkaian upacara ini, untuk menyucikan hewan kurban yang akan digunakan untuk upacara tawur agung, Selasa (24/3/2020) besok," ungkap Dewa Soma.

Dengan pelaksanaan ritual mapepada dan tawur agung, diharapkan alam semesta kembali sampai pada keseimbangannya.

Dimana pasca pelaksanaan hari raya nyepi, alam semesta kembali netral dari segala wabah dan penyakit. Sehingga masyarakat kembali dapat hidup dan beraktivitas dengan normal. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved