Ngopi Santai
Pilih Mana, Kepala Batu atau Tikam Kepala ?
Tikam kepala itu majas populer di bumi Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk Flores, Ini Artinya
Penulis: DionDBPutra | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Keenam dokter yaitu Dokter Hadio Ali dari Jakarta Selatan, Djoko Judodjoko (Bogor), Laurentius (Jakarta Timur), Adi Mirsaputra (Bekasi), Ucok Martin (Medan) dan Toni Daniel Silitonga (Bandung).
Tidak hanya di Indonesia.
Dokter dan perawat pun gugur di berbagai belahan dunia dalam usaha mereka menyelamatkan penderita Covid-19.
Nasib tenaga medis yang masih hidup pun mengalirkan lara.
Mereka meninggalkan keluarga, suami, istri dan anak-anak di rumah.
Mesti bekerja di rumah sakit atau klinik.
Tidak selalu boleh pulang ke rumah sebagaimana lazimnya karena berpotensi terpapar virus sehingga dapat menularkan kepada orang-orang terdekat.
Di Indonesia, tenaga kesehatan bekerja dalam kondisi Alat Pelindung Diri (APD) minim.
Di Bali baru kemarin datang APD sebanyak 4.000 unit dari kebutuhan ideal sekitar 20.000.
Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat (NTB) baru kebagian 500 unit.
Mengingat kondisi wilayah NTT yang demikian luas dan berpulau-pulau sudah terbayang betapa secuilnya 500 APD itu.
Bekerja merawat pasien Corona tanpa APD merupakan tindakan bunuh diri.
Namun, kita tetap bersyukur karena barang penting ini sudah ada daripada tidak sama sekali.
Sudah banyak cerita betapa kejamnya korban Covid-19.
Jika tuan dan puan sakit jangan menanti kunjungan keluarga atau kekasih hati.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/foto-ilustrasi-seorang-anak-petani-membawa-lampu.jpg)