Kasus Kematian Babi Masih Terjadi di Bangli, Total 104 Ekor Mati Sejak Februari 2020

Kematian babi yang diduga akibat pandemi ASF ini masih terus bertambah di Bangli

Dinas PKP
Petugas Dinas PKP saat melakukan pengecekan babi mati pada salah satu peternakan wilayah Susut, Bangli, Bali, belum lama ini. Kasus Kematian Babi Masih Terjadi di Bangli, Total 104 Ekor Mati Sejak Februari 2020  

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Pandemi African Swine Fever (ASF) yang sempat merebak di sejumlah wilayah di Bali, seolah tergeser dengan merebaknya virus corona (Covid-19).

Namun, kematian babi yang diduga akibat pandemi ASF ini masih terus bertambah.

Berdasarkan data per tanggal 4 April 2020, jumlah kematian babi di wilayah Bangli terdata sebanyak 104 ekor.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bangli I Wayan Sarma mengatakan, jumlah tersebut berdasarkan pendataan yang dilakukan petugas lapangan.

Pihaknya pun tidak memungkiri, kematian babi ini terus mengalami penambahan setiap harinya.

“Jumlah 104 ekor ini merupakan data kumulatif, terhitung sejak bulan Februari. Karena beberapa hari terakhir kembali dilaporkan kematian babi. Kematian ini menyebar di tiga kecamatan, antara lain Bangli, Susut, dan Kintamani,” ujarnya, Minggu (5/4/2020).

Sarma tidak menampik banyak kematian babi yang dilaporkan di Bangli.

Hanya saja pendataan yang dilakukan pihaknya mengkhusus kematian babi yang mengarah ke ASF.

Pun demikian, pihaknya tidak berani secara terang-terangan menganggap kematian babi ini akibat ASF.

“Mengarah ini ada dua kemungkinan. Bisa jadi hog colera, ataupun ASF. Untuk membuktikan hal itu kan, butuh hasil lab,” ucapnya.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved