Breaking News:

Corona di Bali

Stigma Negatif Pekerja Migran di Tengah Pandemi Corona, Masyarakat & Pemerintah Harus Saling Percaya

Stigma negatif masyarakat terhadap Pekerja Migran Indonesia yang pulang ke Bali dari luar negeri

Istimewa
Pekerja Migran Indonesia tiba di Bali. Stigma Negatif Pekerja Migran di Tengah Pandemi Corona, Masyarakat & Pemerintah Harus Saling Percaya 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Stigma negatif masyarakat terhadap Pekerja Migran Indonesia yang pulang ke Bali dari luar negeri merupakan bentuk aksi-reaksi yang berlebihan karena minimnya edukasi soal pandemi corona.

Seperti disampaikan Pengamat Sosial asal Bali Gusti Bagus Suka Arjawa, kepada Tribun Bali, Minggu (5/4/2020).

“Itu gejolak kecemasan yang berlebih dari masyarakat, masyarakat paranoid, terlalu khawatir, ini kan cenderung mendadak wabah ini, jadi kaget, tidak pernah ada sebelumnya, di lain sisi belum ada kesiapan pemerintah sebelumnya untuk edukasi,” kata dia.

Menurutnya, hal itu disebabkan masih minimnya edukasi masyarakat terhadap virus corona atau Covid-19, dan menjadi tugas pemerintah untuk menggencarkan informasi seputar penularan Covid-19 kepada masyarakat.

Menurutnya, masyarakat harus paham apa itu masa inkubasi, karantina dan sebagainya, jangan lagi ada yang berstigma demikian.

Masyarakat jangan sampai terjebak informasi tidak benar, katanya, agar kemudian tidak menjadi beban psikologis PMI sebagai orang dalam pemantauan (ODP).

“Kedua pihak harus saling percaya, masyarakat juga harus percaya kepada pemerintah, sebaliknya pemerintah harus benar-benar menerapkan protap penanganan agar PMI yang kembali ke tempat asal benar-benar aman saat diterima di masyarakat,” bebernya.

Sementara itu, PMI harus menaati prosedur dari pemerintah untuk menjalani karantina 14 hari dan kooperatif dengan pemerintah.

Disinggung terkait orang Bali yang memilih menjadi pekerja migran, ia enggan berkomentar meskipun disebutnya banyak alasan mereka ke luar Bali.

“Kalau sehat bisa bergabung ke masyarakat, namun tetap jaga social distancing dan physical distancing, jangan ngeyel, tidak mau mengkarantina diri, tidak mau diperiksa,” tutur dia.

(*)

Penulis: Adrian Amurwonegoro
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved