Corona di Bali

Kru Pesiar di Bali Merasa Tertekan, Ini Curhat Mereka Melawan Stigma sebagai Pembawa Penyakit

Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) memukul sektor pariwisata di seluruh dunia, termasuk bisnis kapal pesiar.

Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV
Pemeriksaan Thermo Scanner dan Thermo Gun, pendataan penumpang (wawancara oleh KKP), pemeriksaan rapid test, proses imigrasi, baggage claim lalu pemeriksaan bea dan cukai untuk ABK kapal pesiar yang baru tiba dari Spanyol 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) memukul sektor pariwisata di seluruh dunia, termasuk bisnis kapal pesiar.

Akibatnya banyak Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di pesiar terpaksa pulang lebih cepat.

Hanya kedatangan para PMI ini mendapatkan stigma negatif dari sebagian masyarakat Bali.

Kru pesiar pun merasa tertekan kepulangan mereka ke tanah kelahiran malah dituding sebagai pembawa virus atau penyakit.

"Saya agak merasa tertekan dengan omongan orang di luar, katanya mereka yang dari kapal pesiar bawa penyakit ke Bali.

Padahal mereka tidak tahu bagaimana keadaan di sini, bagaimana ketatnya perusahaan tentang masalah kesehatan," tutur seorang PMI asal Desa Kubu, Kabupaten Bangli, I Komang Alit Juliartha, kepada Tribun Bali via telepon WhatsApp, Minggu (5/4).

Alit mengaku saat ini masih terkurung di atas kapal, di wilayah perairan Barbados, Kepuluan Karibia, Amerika Utara.

Dirinya belum bisa pulang ke Bali karena masih menunggu jadwal pesawat.

"Saya masih di tengah laut sekarang. Sudah sejak seminggu tidak bekerja. Saya cuma numpang makan saja di sini," aku Alit, yang juga seorang sastrawan Bali ini.

Di kapal tempatnya bekerja, terdapat 30-an orang pekerja dari Bali dan total se-Indonesia terdapat 60-an pekerja.

Halaman
1234
Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved