Corona di Bali

Putus Rantai Penyebaran Corona, Desa Adat Gelgel Bentuk Pararem & Denda Krama Yang Keluyuran Malam

Desa Adat Gelgel, Klungkung membentuk pararem, dan mengenakan sanksi bagi warga yang keluyuran atau keluar rumah saat malam hari

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Bendesa Adat Gelgel, Klungkung, Bali, I Putu Arimbawa. Putus Rantai Penyebaran Corona, Desa Adat Gelgel Bentuk Pararem & Denda Krama Yang Keluyuran Malam 

TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Suasana jalanan di wilayah Desa Adat Gelgel, Klungkung, Bali, tampak lenggang, Senin (5/4/2020).

Pihak desa adat setempat berkeliling mengimbau masyarakat untuk tidak keluar rumah.

Desa Adat Gelgel bersikap tegas dalam membatasi masyarakat agar tak keluyuran saat malam hari, guna mencegah penularan Covid-19.

Bahkan Desa Adat Gelgel membentuk pararem, dan mengenakan sanksi bagi warga yang keluyuran atau keluar rumah saat malam hari.

"Ini bukan isolasi, kami hanya batasi aktivitas warga di tengah upaya penanggulangan Covid-19," ujar Bendesa Adat Gelgel I Putu Arimbawa, Senin (6/3/2020).

Arimbawa menjelaskan, sebelumnya ada kesepakatan bersama antara gubernur dan Mejelis Adat Provinsi Bali agar di tingkat desa adat di Bali juga membentuk Satgas Penangulangan Covid-19.

Desa Adat Gelgel yang terdiri dari tiga desa dinas, lalu membentuk pararem yang mengatur segala hal terkait penangulangan Covid-19 di wilayah desa adat.

"Satgas akan lebih efektif jika ada pararem. Sehingga kami di desa adat menyusun pararem terkait hal ini. Tidak hanya membatasi aktivitas warga, tapi juga terkait panca yadnya," ungkap Putu Arimbawa.

Dalam pararem tersebut diatur, warga di wilayah Desa Adat Gelgel tidak diperkenankan keluar rumah atau bahkan keluyuran di atas pukul 8 malam.

Warga hanya diperkenankan keluar rumah, jika dalam keadaan darurat atau ada urusan menyangkut pekerjaan.

"Jika ada urusan darurat dan terkait pekerjaan kami persilakan. Nanti diberikan surat dispensasi oleh adat," ungkap Arimbawa.

Jika ada warga yang melanggar pararem terkait penanganan Covid-19 di Desa Adat Gelgel, akan diberikan teguran.

Jika tidak dihiraukan, akan dikenakan denda Rp 100 ribu dan ngaturang pejati.

Namun jika warga tersebut terus membandel dan nekat tetap keluyuran malam meski sudah ada teguran, akan dikenakan penyagsag (denda tambahan) sebesar Rp 500 ribu dan ngaturang banten guru piduka.

(*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved