Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba Serbi Di Rumah Aja

Andai Si Rona Bisa Diajak Omong Santai

Selama ini, saya punya alarm alami untuk bangun pagi. Bukan suara kukuruyuk ayam, melainkan bunyi “jeglek”

Tayang:
Penulis: Ni Kadek Rika Riyanti | Editor: Aloisius H Manggol
istimewa
Ni Kd. Rika Riyanti 

Oleh: Ni Kadek Rika Riyanti (jurnalis Tribun Bali)

TRIBUN-BALI.COM- Selama ini, saya punya alarm alami untuk bangun pagi. Bukan suara kukuruyuk  ayam, melainkan bunyi “jeglek” pintu kamar tidur yang ngagetin, dan diikuti suara seorang perempuan dengan volume lumayan: geg, bangun, ayo bangun !

Tidak dilihat dulu apakah saya sudah bangun atau belum, pokoknya begitu handel pintu kamar itu dibuka, secara bersamaan langsung terdengar seruan membangunkan itu.

Ya, itu alarm alami saya. Kalau ibu saya belum “jeglek” pintu kamar, bagi saya, itu belum pagi hari namanya. Belum pukul 06.00 pagi.

Tapi, itu dulu. Iya dulu sebelum Coronavirus Disease atau yang lebih dikenal sebagai Covid-19 menyerang.

Semenjak Covid-19 mewabah di Indonesia, khususnya Bali, boro-boro bangun pagi menatap mentari ditemani secangkir kopi dan roti, dengar kata ‘keluar rumah’ saja saya alergi.

Bahkan saya membuat taruhan dengan teman sesama reporter untuk menerapkan Work From Home (WFH) atau kerja dari rumah, kendati rencana itu hanya bertahan dua hari. Karena besoknya, saya dan teman saya itu nongkrong di warung kopi mencari informasi.

Saya akui, jika menulis tentang ketakutan untuk keluar rumah seperti ini, pasti teman-teman akan meneriaki.

“Ah, itu fitnah! Palsu! Pembohongan publik! Rika itu suka jalan-jalan kok!” kata sahabat saya yang merangkap sebagai haters.

Mereka tidak tahu, walaupun termasuk anak yang gemar ngukur jalan, tetap saja ada rasa was-was saat membayangkan diri harus melanglang buana berburu berita di tengah pandemi ini.

Sayangnya, ini dilema bagi saya pribadi. Sebagai reporter yang bahkan belum seumur jagung, kebijakan WFH dari pemerintah sedikit membebani saya.

Liputan saya antara lain di bidang pendidikan. Padahal, sekolah diliburkan, begitu pula para pegawai kantor dinas, dan sejumlah instansi lain diminta kerja di rumah. Terus, saya mau cari berita ke mana?

Silakan bayangkan wajah orang melongo, seperti itulah raut wajah saya seusai mengetik berita terkait kegiatan belajar-mengajar (KBM) para siswa yang dilakukan di rumah secara online. Dan ini harus di-bold: hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Sebulan belum cukup bagi saya untuk mengenal dunia baru saya ini. Sebelum Covid-19 datang, saya akan langsung mendatangi para narasumber baik itu di sekolah-sekolah, kantor dinas, atau di Gedung DPRD Provinsi Bali untuk berburu berita. Tidak perlu bingung mencari kontak narasumber, tinggal langsung datang dan dekatkan handphone kemudian tanyakan isu yang ingin digali informasinya. Wawancara face to face, gitu lho maksudnya.

Nah, itu baru satu dari seribu satu dilema saya.

Dilema yang lain, ketika pada akhirnya kantor memberi kebijakan untuk tidak terlalu over dalam peliputan dan agar memperhatikan safety diri, cara saya mendapat informasi dan bahan berita pun jadi lebih banyak melalui telepon atau pesan WhatsApp (WA). Iya, kebanyakan begitu, sampai kadang bosan.

Saya juga tidak bisa bertemu dengan narasumber, karena mereka pun memberlakukan WFH dan minta untuk tidak wawancara langsung atau bertatap muka.

Oke, perlu diketahui bahwa di keluarga saya, belum kerja namanya kalau belum bangkit dari kasur.

Belum kerja namanya kalau belum mandi, berpakaian rapi, dan pergi keluar rumah.

Selama WFH ini, saya berulangkali, catat ya, berulangkali mendapat pertanyaan dari ibu : enggak kerja kamu?

Padahal handphone di tangan tengah mengetik berita setelah wawancara sana-sini.

Saya berulangkali diminta mengerjakan sesuatu, padahal saya sedang mewawancarai narasumber melalui telepon, bahkan saya pernah ditunggui sampai selesai menelepon narasumber hehe.

Maka dari itu, saya berharap, seandainya Covid-19 atau si Rona (begitu temanku memanggil Coronavirus) dapat diajak omong dengan sopan dan santai, maka saya akan bujuk dia untuk segera pergi ke planet lain.

Saya tidak betah, asli tidak betah menghadapi rutinitas dalam situasi yang serba terbatas akibat Covid-19 ini.

Saya ingin keluar menikmati mentari pagi dan menyapa para lelaki eh… para narasumber baik hati yang kerap saya datangi sebelumnya. Saya ingin kembali bercengkerama dengan sesama reporter dan membangun relasi.

Tapi, demi keamanan jiwa dan raga, untuk sekarang cukup berbekal secuil kontak narasumber dan teman di ranah yang sama, saya setiap hari menghubungi orang-orang penting untuk diwawancara.

Saya harap, mereka tidak akan mendengus saat saya menelepon dan menyebutkan identitas saya seperti ini:

“Selamat siang Pak/Bu, maaf mengganggu sebelumnya. Saya Rika dari Tribun Bali ingin menanyakan….”.

Berulangkali.

Denpasar, 13/4/2020.

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved