Sejarah Islam di Bali

Kampung Muslim di Bali, Tanah Angker Pegayaman, Cerita Dalem Solo Beri Hadiah Gajah ke Panji Sakti

Ada juga versi lain menyebutkan di antara yang mengantarkan gajah itu masih beragama Hindu. Itulah awal Islam masuk Buleleng

Editor: Kambali
dok Tribun Bali
Belasan pria memainkan budrah saat parade adat dan budaya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sejarah Islam di Bali. Perkampungan pendatang di Bali pada abad XVII pada umumnya terletak di pesisir di seputaran pulau Bali ini, baik dari Sulawesi maupun dari Jawa, Kalimantan serta dari pulau Lombok terutama perantau dari Suku Bugis Makassar.

Komunitas muslim asal Sulawesi Selatan suku Bugis Makassar di Bali mendarat di beberapa pesisir pantai. Mereka mendirikan perkampungan di wilayah pantai atas izin penguasa setempat.

Misalnya kita lihat saat ini Perkampungan Muslim Suku Bugis-Makassar berasal dari Wajo Sulawesi Selatan (Sulsel) di Pantai Air Kuning Jembrana, perkampungan Muslim suku Bugis-Makassar asal Wajo dan Bone Sulsel di Kampung Bugis Buleleng, perkampung Muslim Suku Bugis-Makassar dari Wajo, Bone dan Soppeng Sulsel di Kampung Muslim Serangan Denpasar.

Kampung Muslim Suku Bugis Makassar dan Banjar di Kampung muslim Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung dan Kampung Toya Pakeh di Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung dan terakhir perkampungan Bugis-Makassar di Kampung Buitan, Kecamatan Manggis Karangasem.

Kampung Muslim di Bali, Pelaut Bugis Sebut Serangan “Sira Angen” dan Kisah Pangeran Isa Rappe

Hampir semua enclave-enclave tersebut lokasinya berada di wilayah pesisir pantai. Dari beberapa komunitas kecil ini lalu kemudian berkembang dari pernikahan dan mempunyai antara di antara mereka hingga berkembang seperti sekarang ini.

“Ada juga di bagian pesisir yang terdapat muara sungai, awalnya mereka menelusuri sungai setempat ke arah hulu untuk mencari tempat yang paling cocok dan aman untuk dibuka sebagai perkampungan,” tulis Drs. H. Bagenda Ali, MM  dalam bukunya berjudul “Awal Mula Muslim Di Bali” yang telah cetak pertama pada Januari 2019, pada Bab V Beberapa Kampung Muslim Kuno di Bali.

Anak-Anak Peserta Khitanan Naik Kuda, Peringatan Maulid Nabi di Kampung Muslim Kepaon

“Seperti di kampung Muslim Bugis-Makassar Loloan, Kabupaten Jembrana dan Kampung Bugis Suwung, Kota Denpasar justru lokasinya jauh dari pesisir pantai,”

Namun berbeda dengan kampung Muslim Pegayaman (Suku Bugis-Makassar dan Jawa) di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng dan Kampung Muslim Kepaon (Suku Bugis-Makassar dan Madura) di Denpasar dan perkampungan Muslim Angantiga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Menurut Drs. H. Bagenda Ali, MM, karena kampung tersebut awalnya tidak dihuni oleh suku Bugis-Makassar.

Al Quran dari Kulit Unta Abad Ke-17 Tersimpan di Kampung Bugis Serangan

Kampung Muslim Pegayaman, pada awalnya dihuni oleh suku dari Jawa yaitu ketika dalem Solo menghadiahkan seekor gajah untuk kendaraan I Gusti Ngurah Panji Sakti. Hadiah tersebut diantarkan oleh tiga orang utusan sebagai pengembalanya yang ketiganya beragama Islam.

“Ada juga versi lain menyebutkan di antara yang mengantarkan gajah itu masih beragama Hindu. Itulah awal Islam masuk di Buleleng yang dalam babad Buleleng disebut sebagai “si tindih” yang berarti sang pembela,” lanjut tulisan Drs. H. Bagenda Ali, MM.

Kisah Ratu Dewi Fatimah Tak Mampu Memotong Bulu Kaki Raja Dalem Ketut di Kerajaan Gelgel

Mereka yang beragama Islam dari Jawa itu sekaligus sebagai pawang gajah. Kemudian ditempatkan di Banjar Jawa, Kota Singaraja sekarang. Di sekitaran Banjar Jawa terdapat Banjar Petak sebagai petak (kandang) gajah dan di dekatnya terdapat nama Banjar Peguyangan (tempat gajah dimandikan). Peguyang bahasa Bali berarti merebahkan diri di air yang berlumpur.

Dalam tulisannya, Drs. H. Bagenda Ali, MM melanjutkan, salah seorang dari tiga orang sebagai pawang gajah itu menetap di lingga (di dekat muara sungai mala) Banyumala Singaraja yang dikenal dengan sebutan pantai lingga. Asal dari kata “Prabu Lingga” atau Probolinggo ( Jawa Timur) asal pawing gajah tersebut. Agama Islam pertama kali masuk di Buleleng pada akhir abad ke XVI.

Pertualangan Raden Fatah ke Bali dan Balik Lagi ke Majapahit hingga Peristiwa Batara Katong

Setelah pendatang muslim awal atau utusan dari Mataram Islam menetap di Banjar Jawa Singaraja maka kemudian pihak raja memberikan kebebasan mengambil areal atau wilayah palemahan semaunya berapapun luasnya. Tawaran raja tersebut diprediksi akan ditolak karena daerah itu terkenal sangat “angker”. Sekaligus sebagai bentuk mengusir secara halus mengingat hubungan yang semula secara baik-baik.

Namun para pendatang menyambut tawaran tersebut dengan rasa suka cita karena mereka adalah para penyamar dari orang kalangan berdarah biru. Maka dibabatlah alas yang diapit dua perbukitan dan dua buah tukad atau sungai besar yang airnya sekarang ini dapat mengairi kurang lebih sepertiga sawah di Kabupaten Buleleng Timur. Itulah awal mula berdirinya Desa Pegayaman sekitar tahun 1639 silam.

Beberapa puluh tahun kemudian datanglah orang dari suku Bugis-Makassar yang berbaur di daerah Pagayaman, sehingga leluhur orang-orang Pegayaman sekarang ini berporos pada leluhur suku Jawa-Bali- Bugis-Makassar.

Al Qur’an Kuno Tulisan Tangan Berumur 200 Tahun di Bali, dari Malaysia Jadi Warisan Warga Loloan

Suku Bugis khususnya mereka yang ada dan menetap di desa Pegayaman berasal dari ekspedisi Raja Sultan Hasanudin (Sulawesi) yang akan menuju Jawa atau Madura di bawah pinpinan Karaeng Galessong yang perahunya kandas di Kabupaten Buleleng.

“Pertimbangan antara lain kesamaan agama, mereka yang terdampar di pantai Buleleng (kampung Bugis sekarang) ditempatkan di Pegayaman. Hingga sekarang ini adat istiadat keagamaan di Pegayaman yang keseluruhannya merupakan adat Bugis-Makassar meskipun sebagian ada yang berakulturasi dengan adat Bali,” tulis Drs. H. Bagenda Ali, MM. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved