Terdampak Covid, Puluhan Warga Pesaban dari Pariwisata Beralih Jadi Buruh Petik Bunga

Kini Sehari mereka dapat upah Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu, jika beruntung upahnya bisa Rp 60 ribu hingga Rp 100.000.

Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Seorang petani sedang menunjukan bunga gumitir di lahan sawahnya . 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Puluhan warga di Pesaban, Kecamatan Rendang, Karangasem beralih pekerjaan akibat pandemi Covid-19.

Warga yang semula berkerja di sektor pariwisata di Denpasar, kini beralih menjadi buruh petik bunga dan buruh bangunan di kampung halaman.

Perbekel Pesaban, I Gede Widiasa menjelaskan, warga yang beralih pekerjaan karena di-PHK dari tempat bekerja.

Ada yang kerja sebagai sopir taksi, kerja di hotel dan restoran, dan lainnya. Sekarang puluhan warga tidak memiliki pekerjaan tetap.

"Ada sekitar 50 orang lebih warga Pesaban yang kehilangan kerjaan akibat Cpvid- 19. Hampir sebagian mereka beralih menjadi buruh petik bunga untuk bisa penuhi kebutuhan keluarga seharinya," jelas Perbekel Pesaban, Gede Widiasa, Kamis (30/4/2020).

Ditambahkan, penghasilan jadi buruh petik bunga bervariatif. Tergantung harga bunga per kilogramnya.

Seandainya sekarang harga bunga Rp 3 ribu per kilogram, kemungkinan mereka dapat upah Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu.

Jika harganya mencapai Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribuan, upahnya bisa Rp 60 ribu hingga Rp 100 ribuan.

"Sekarang karena harga bunga anjlok di pasaran, Rp 3 ribu per kilonya, otomatis buruh petik hanya mendapat Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu. Upah itu dari uang pemilik bunga. Walaupun penghasilannya tipis, tapi mereka bersyukur bisa dapat penghasilan ditengah pandemi Covid- 19," ungkap Widiasa.

Selain menjadi buruh petik bunga, sebagian warga juga beralih jadi buruh bangunan.

Mereka ikut bekerja jadi buruh bangunan dari dana desa melalui program padat karya tunai desa.

Tujuannya untuk pemberdayaan warga desa. Minimal jumlah pengangguran, serta angka kemiskinan turun.

"Disini kan ada padat karya tunai, bangun jalan. Program ini lumayan nyerap tenaga kerja. Warga digilir setiap 10 hari untuk pemerataan. Biasanya mereka dapat Rp 80 ribu perhari untuk kerja bangunan sesuai harga dari kabupaten. Kegiatan ini lumayan bantu warga di Pesaban," tambh Widiasa.

Beberapa warga Karangasem yang semula kerja di sektor pariwisata juga ada yang beralih pekerjaan menjadi petani arak.

Seperti di Desa Tri Eka Buana, Kecamatan Sidemen, puluhan orang beralih menjadi petani arak. (*)

Penulis: Saiful Rohim
Editor: Bambang Wiyono
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved