Ngopi Santai

Sirnanya Spontanitas Permainan Ajaib

Selebrasi setelah mencetak gol pun tidak lagi berangkulan apalagi pelukan erat 11 pemain sambil berguling-guling ria.

Penulis: DionDBPutra | Editor: Eviera Paramita Sandi
JSTOR Daily via Tribun Wow
ilustrasi bola 

SEPAK bola adalah permainan ajaib.

Tapi si ajaib itu mungkin tak akan sama lagi bobotnya dalam waktu dekat karena pudarnya spontanitas gara-gara teror virus corona atau Covid-19.

Bola mungkin dimainkan dengan lebih hati-hati.

Bayangan buruknya kira-kira begini.

Dikau akan melihat manusia ber masker di lapangan hijau yang disiplin menjaga jarak.

Sedapat mungkin menghindari kontak fisik dengan rekan atau lawan.

Lebih utamakan kepiawaian individu meliuk-liuk bersama bola.

Selebrasi setelah mencetak gol pun tidak lagi berangkulan apalagi pelukan erat 11 pemain sambil berguling-guling ria.

Selebrasi lebih terkontrol secara individual agar peluh tak berpadu menjadi satu.

Percikan ludah dan ingus tak mengenai wajah rekan sendiri. Pokoknya selalu ingat physical distancing. Duh!

Antropolog Richard Giulianotti menyebut sepak bola sebagai sihir karena membentuk ikatan ekstrem dengan manusia pemujanya. Kalau serba dibatasi sebagaimana kecemasan saya di atas, apakah bola masih menebarkan sihir?

Main bola sejatinya bentrok kaki ke kaki, dada dan dada, pinggul, tangan, kepala dan bagian tubuh yang lain.

Orgasme kepuasan dalam bola tercipta justru karena sentuhan fisik para pemain tersebut.

Beda dengan cabang olahraga lain semisal bulu tangkis, renang, angkat berat, atletik dan sebagainya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved