Corona di Indonesia
Masyarakat Jangan Terjebak Ramalan Akhir Pandemi Covid-19, Ini Alasannya
Banyaknya ramalan tentang akhir pandemi Covid-19 dari berbagai pihak akhir-akhir ini dipandang sebagai sebuah kesalahan oleh Prof Mahardika
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Irma Budiarti
Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Banyaknya ramalan tentang akhir pandemi Covid-19 dari berbagai pihak akhir-akhir ini dipandang sebagai sebuah kesalahan oleh Ahli Virologi asal Universitas Udayana Bali Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika.
Menurut Prof Mahardika, beberapa minggu terakhir jagat media banyak dihebohkan dengan ramalan yang dibuat dengan model matematika, yakni artificial intelegence (AI) canggih, oleh lembaga nasional dan global terkemuka, selanjutnya diamplifikasi lembaga survei yang konon selalu akurat meramal hasil pilpres dan pilkada.
"Faktor yang tidak pernah diperhatikan adalah kemampuan perpetuasi (kelestarian) virus di alam. Untuk Covid-19, ini terutama dipengaruhi pergerakan manusia. Perpetuasi pada hewan lain tidak bisa diabaikan. Infeksi Covid-19 pada kucing semakin banyak telah dibuktikan," kata Prof Mahardika kepada Tribun Bali, Kamis (7/5/2020).
Ia berpendapat, ramalan umumnya berbasis perkembangan kasus faktual dan cenderung dianggap symmetric unimodel bell-shaped.
"Data berikutnya berubah, ramalan berubah. Tadinya April, berubah Mei, berubah September. Sebentar lagi ramalan berubah lagi. Ini kesalahan besar," ucapnya.
Di samping itu, faktor sistem kesehatan nasional juga tak pernah diperhitungkan, sebab bagi dia, alam bukan matematika.
"Alam punya maunya sendiri. Kita berharap sistem kesehatan nasional segera berbenah, sementara upaya disiplin kita adalah jaga jarak, pakai masker, transaksi non-tunai, cuci tangan, karantina mandiri dan lain-lain bisa menekan perpetuasi virus di alam," pungkas dia.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-pakai-masker-cari-informasi-soal-corona.jpg)