Breaking News:

Mimpi Basah Batalkan Puasa Atau Tidak? Simak Penjelasan Ustaz Hasan Basri

Mimpi Basah Batalkan Puasa Atau Tidak? Simak Penjelasan Ustaz Hasan Basri

Tribun Bali/M.Firdian Sani
Ustaz Hasan Basri 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Mimpi basah adalah fitrah setiap manusia yang beranjak balig atau dewasa, bisa dialami kapan saja malam atau siang hari.

Mimpi basah tidak bisa ditebak dan dikendalikan semau kita, setiap orang bisa mengalami mimpi basah di waktu yang tidak bisa diprediksi termasuk saat menjalankan puasa di bulan Ramadhan.

Lalu bagaimana jika ada seseorang mimpi basah disaat menjalankan ibadah puasa? apakah puasanya masih bisa dilanjutkan atau malah batal ?

Ustaz Hasan Basri menjelaskan jika mimpi basah tidaklah membatalkan puasa sebab termasuk unsur ketidak kesengajaan.

"Umpama kita mimpi basah di siang hari dan dalam keadaan berpuasa maka masih bisa dilanjutkan puasanya karenakan itu kan dilakukan bukan atas dasar kesengajaan, jelasnya saat ditemui Tribun Bali dikediamannya, Senin (11/5/2020).

Ustaz lulusan Akademi Dakwah Dewan Dakwah di Jakarta ini menambahkan jika segala unsur ketidaksengajaan tidaklah membatalkan puasa, termasuk saat kita makan di waktu puasa karena lupa.

"Kalau tidak sengaja atau lupa itu tidak membatalkan puasa, contohnya ketika kita puasa tapi kita lupa dan kita makan. Itu tetap bisa dilanjutkan puasanya dan segera berhenti makan," katanya.

Ustaz Basri menyarankan untuk segera membersihkan diri dari hadas besar menyegerakan untuk mandi besar.

Lalu bagaimana jadinya seseorang yang sengaja mengeluarkan air mani atau onani? Apakah puasanya tergolong batal?

Ustaz Basri menjelaskan jika ada dua pandangan berbeda mengenai hal itu.

"Ada Imam Malik yang berpandangan jika puasa itu masih sah karena itu tidak termasuk berhubungan suami istri. Namun Imam lainnya, seperti Imam Syafi'i, Ahmad, itu sepakat mengatakan puasanya batal karena dilakukan secara sengaja. Apalagi esensi puasa itu menahan segala nafsu termasuk nafsu itu," paparnya.

Ustaz Basri menyampaikan jika perbedaan pandangan itu wajar, hanya saja kita harus ingat esensi puasa itu, minimal kita menghindari perbuatan yang merugikan diri kita.

"Tetapi untuk kemaslahatan umat, untuk menghindari keburukan sebagian yang lain menganggap batal karena termasuk mengumbar hawa nafsu," tegasnya. (*)

Penulis: M. Firdian Sani
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved