Dikabarkan Dapat Suntikan Dana Rp 8,5 Triliun dari Pemerintah, Ini Tanggapan Garuda Indonesia

Direktur Utama GIAA, Irfan Setiaputra mengatakan pihaknya masih berdiskusi mengenai rencana pemerintah tersebut.

Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin
Pesawat Garuda Indonesia saat take off di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai beberapa waktu lalu 

TRIBUN-BALI.COM - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) masih menolak memberi tanggapan lebih jauh mengenai rencana Pemerintah Pusat mengucurkan suntikan dana berupa talangan modal kerja BUMN sejumlah Rp 8,5 triliun.

Direktur Utama GIAA, Irfan Setiaputra mengatakan pihaknya masih berdiskusi mengenai rencana pemerintah tersebut.

"Kajian pemerintah masih belum final ya, kita masih diskusi dengan detail. Salah satunya kapan akan dikucurkan dana tersebut kalau memang akan dikucurkan," jelasnya saat dihubungi Kontan, Rabu (13/5/2020).

Sebagai informasi, selain GIAA perusahaan yang rencananya akan menerima talangan modal kerja BUMN adalah Perumnas sebesar Rp 650 miliar dan KAI sebanyak Rp 3,5 triliun.

Difasilitasi Disbud Bali, 50 Komunitas Terdampak Covid-19 Bakal Lakukan Pentas Virtual

72 Persen Kantor KUPVA BB Tutup Sementara Selama Pandemi Covid-19

Kalau Harus Dihentikan, Sejumlah Pemain Bali United Butuh Turnamen Pengganti Liga I Indonesia

Kemudian PTPN senilai Rp 4 triliun, Bulog sejumlah Rp 13 triliun, dan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) sebanyak Rp 3 triliun.

Dalam program penyelamatan ekonomi ini, Pemerintah akan mengucurkan dana suntikan total Rp152,15 triliun pada BUMN.

Selama masa pandemi, industri penerbangan ikut terpukul sebagaimana yang dialami oleh Garuda Indonesia.

Perseroan tercatat telah memangkas gaji pegawai dan jajaran direksi untuk menjaga kelangsungan bisnis perusahaan di tengah lesunya industri penerbangan, melalui Surat Edaran Nomor JKTDZ/SE/70010/2020.

Perusahaan pelat merah tersebut juga telah melakukan renegosiasi pesawat khususnya tipe Boeing 777 dan CRJ 1000 NextGen untuk mengurangi beban operasional akibat tekanan COVID-19.

Selain itu juga memiliki utang yang sudah jatuh tempo senilai US$ 500 juta yang akan jatuh tempo Juni 2020 mendatang.(*)

Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved