Corona di Bali

17 Warga Positif Covid-19 Telah Sembuh, Karantina Wilayah di Banjar Serokadan Tak Dilanjutkan

Dirgayusa menilai karantina wilayah yang dilakukan di wilayah Desa Abuan cukup efektif. Hal ini didasari tidak adanya tambahan kasus positif

Dok Bangli
Sejumlah relawan ketika menyiapkan nasi bungkus untuk kebutuhan warga di Banjar Serokadan, Bangli, Bali, Jumat (1/5/2020) 

Laporan Wartawan Tribun Bali M Fredey Mercury

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Masa karantina wilayah di Banjar Serokadan, Desa Abuan, Susut, Kabupaten Bangli, Bali, akan genap 14 hari pada Kamis (14/5/2020).

Pihak satgas pun kini mulai ancang-ancang untuk menentukan tindak lanjut, pasca berakhirnya proses karantina.

Humas Satgas Penanggulangan Covid-19 Bangli, I Wayan Dirgayusa mengatakan, sesuai rencana pihak satgas kabupaten akan melakukan pertemuan pada Kamis (14/5) untuk menentukan langkah apa yang diambil pasca karantina wilayah.

Namun berdasarkan informasi awal, Dirgayusa menyebut karantina wilayah di Banjar Serokadan tidak akan diperpanjang kembali.

“Tidak ada alasan untuk memperpanjang karantina wilayah, sebab situasi di wilayah tersebut sudah mulai stabil. 17 warga Banjar Serokadan yang terkonfirmasi positif juga telah dinyatakan sembuh. Namun demikian besok akan dibicarakan kembali oleh Satgas Kabupaten bersama dengan Satgas Kecamatan dan Satgas Desa,” ujarnya Rabu (13/5).

Dirgayusa menilai karantina wilayah yang dilakukan di wilayah Desa Abuan cukup efektif. Hal ini didasari tidak adanya tambahan kasus dari wilayah tersebut.

“Termasuk temuan satu kasus positif dari rapid masal yang dilakukan, itu tidak menimbulkan hasil positif lainnya. Sehingga bisa dikatakan penyebarannya sudah berhenti,” ucapnya.

Kendati demikian, pria yang juga menjabat selaku Kadiskominfo Bangli itu tidak menampik masih ada potensi imported case, mengingat belum semua Pekerja Migran Indonesia (PMI) kembali ke wilayahnya.

Di samping itu Dirgayusa juga tidak memungkiri hingga kini belum ada kajian yang pasti sampai berapa lama masa inkubasi virus corona.

“Kemungkinan tetap ada, karena mereka yang datang selaku imported case tetap berpotensi memberikan dampak kepada masyarakat sekitar, untuk menjadi transmisi local. Sehingga inilah yang menjadi atensi khusus setelah masa karantina wilayah selesai. Pengawasan ini tetap harus dijalankan. Karenanya wilayah Banjar Serokadan, Banjar Abuan, dan Banjar Sala tetap menjadi atensi dengan pengawasan secara intens dari pihak satgas gotong royong desa,” terangnya.

Mantan Camat Kintamani itu menambahkan, untuk mengantisipasi terjadinya transmisi local, pihak satgas telah menetapkan bagi setiap orang yang datang harus mengikuti pola karantina lagi selama 14 hari.

Walaupun diketahui yang bersangkutan sudah di swab, ataupun telah menjalani karantina dari pemerintah. Mereka yang menjalani proses karantina juga dibebaskan sementara dari kegiatan adat.

Disinggung terkait wilayah lain yang berpotensi untuk dilakukan karantina wilayah, Dirgayusa mengaku hingga kini belum ada. Pasalnya karantina wilayah didasari dari perkembangan kasus transmisi local.

“Sementara ini masih cukup dengan tracking dari setiap temuan kasus. Belum sampai ke tahap karantina wilayah,” ucapnya. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Komang Agus Ruspawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved