Apriani Tidak Resah Harga Cabai Naik, Kelompok Wanita Tani Kembangkan Tanaman Organik

Apriani Tidak Resah Harga Cabai Naik, Kelompok Wanita Tani Kembangkan Tanaman Organik

Tribun Bali/Noviana Windri Rahmawati
cabai 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA- Hari beranjak siang, ketika Wayan Apriani (30) menuju Rumah Pangan Lestari (KRPL) Kelompok Wanita Tani (KWT) Karya Amerta Sari di Dusun Takedan, Desa Selat, Klungkung, Selasa (19/5). Dengan lahan seluas sekitar 2 are, ia dan puluhan ibu-ibu rumah tangga di Dusun Tangkedan, mengembangkan berbagai varietas sayur dan buah secara organik.

" Ada sekitar 40 ibu-ibu di Dusun Tangkedan yang ikut kelompok wanita tani dan mengembangkan tumbuhan organik. Biasanya sore hari setelah menyelesaikan berbagai urusan di rumah, kami kesini untum berkebun," ungkap Apriani yang tampak sibuk memeriksa berbagai tumbuhan sayur yang ia budi daya.

Udara yang cukup sejuk di Dusun Tangkedan, mambuat berbagai tanaman yang dikembangkan tumbuh dengan cukup baik. Demplot itu mereka bangun tahun 2019 lalu, setelah mereka mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat untuk pembibitan dan pengembangan tanaman organik. Ketika itu, Apriani juga berkesempatan memanen berbagai sayur dan buah seperti terong, pare, cabai dan mentimun.

Ditengah masa pandemi COVID-19 seperti saat ini, berkembun memang menjadi pilihan masyarakat. Apa yang dikembangkan oleh ibu-ibu di Dusun Tangkedan ini, juga meringankan pengeluaran rumah tangga mereka disaat pandemi seperti saat ini. Bahkan semenjak menanam tanaman organik, Apriani dan anggota kelompok wanita tani di Dusun Tangkedan lainnya tidak resah lagi jika harga cabai tiba-tiba melonjak dipasaran.

" Disini sebenarnya untuk pembibitan, namun kami juga menanam ini di halaman rumah masing-masing. Keunggulannya disini semua organik, jani pasti dijamin sehat. Kami juga tidak resah jika harga cabai di pasar tiba-tiba naik, soalnya sudah menamam cabai dan sayur lainnya yang cukup untuk sekedar memenuhi kebutuhan di dapur," ungkapnya.

Ketua Kelompok Tani (KWT) Karya Amerta Sari di Dusun Takedan Sagung Putra Anggraini menjelaskan, pengembangan tanaman organik itu baru dilakukannya setahun terakhir. Awalnya kelompoknya diikuti oleh 30 orang wanita, yang terdiri dari ibu-ibu buruh tani di Dusun Tangkedan. Pada tahun 2019 setelah mengirim proposal, mereka akhirnya mendapatkan bantuan hingga Rp50 juta dari pemerintah pusat untuk pembibitan dan penumbuhan varietas.

" Lalu tahun 2020 ini, kami dapat lagi bantuan pengembangan dari pemerintah pusat Rp15 juta. Saat ini jumlah ibu-ibu yang ikut dalam kelompok tani kami sampai 40 orang," jelasnya.

Berbagai varietas mereka kembangkan, mulai dari seledri, tomat, terong, timun, hingga tanaman buah seperti jambu dan belimbing. Selain dimanfaatkan oleh kelompok tani, terkadang hasil budidaya juga mereka jual di warung sekitar Dusun Tangkedan.

Menurut Sagung, budidaya tanaman organik ini sangat potensial. Hanya saja belum bisa dikembangkan secara maksimal karena masih perlu ditambah untuk pelatihan, pendampingan, serta sosialisasi tentang pengembangan tanaman organik. Termasuk belum banyak petani lokal yang mau mengembangkan varietas organik.

" Organik memang agak mahal biayanya. Selain itu, tumbuhannya juga kadang mudah terserang hama karena kami sama sekali tidak semprot dengan pestisida. Namun hasil sayur atau buah yang kami hasilkan lumayan bagus, dan pastinya sehat," ungkapnya. (Mit)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved