Corona di Bali

Pemerintah Godog Konsep New Normal, Ini Masukan Ahli Virologi, Harus Straight dan Rigid

Pemerintah Godog Konsep New Normal, Ini Masukan Ahli Virologi, Harus Straight dan Rigid

Shutterstock
Ilustrasi the new normal. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Konsep New Normal mulai digaungkan oleh pemerintah, konsep tersebut melonggarkan pembatasan terkait covid-19 hidup berdampingan dengan corona akan tetapi tetap menjalankan protokol kesehatan.

Ahli Virologi asal Universitas Udayana Bali Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika untuk menuju fase New Normal harus ada kajian bagaimana Standar Operasional Prosedur (SOP) protokol kesehatan aktivitas di dalam ruang maupun luar ruang, contohnya. pembukaan tempat pariwisata.

"Implementasi dilakukan berbeda-beda, daerah tujuan wisata terbuka, ada hewan yang peka terhadap covid-19 misalnya di Bali ada Sangeh, Monkey Forest agar tidak menyebar ke hewan, bagaimana polanya diatur," kata Prof. Mahardika kepada Tribun Bali

"Lalu misalnya di pantai jangan sampai terjadi crowding satu tempat leyeh-leyeh dengan lainnya diberi jarak, bisa diterapkan seperti di Negara Jerman, dikecualikan bersama anggota keluarga, di Jerman boleh keluar dengan 2-3 orang kalau dengan anggota keluarga, kalau orang lain harus 2 meter," imbuhnya.

Meski dalam fase New Normal harus ada etika-etika dalam bersosialisasi dan dipatuhi dengan penuh kedisiplinan supaya tidak kontradiktif justru mendorong laju penyebaran, seperti tetap menggunakan masker, jaga jarak, cuci tangan dengan sabun, pemeriksaan ketat di pintu masuk daerah dan lain sebagainya.

"Pariwisata seperti apa, industri seperti apa harus dibedakan dalam ruang dan luar ruang protokolnya harus berbeda," katanya.

Prof. Mahardika menyampaikan bahwa selama ini Indonesia belum maksimal dalam penerapan social distancing hal ini bisa menjadi tolok ukur untuk melaksanakan fase New Normal.

"Indonesia tidak benar-bemar melaksankanan pembatasan sosial atau social distancing dibandingkan dengan negara lain. Di jerman straight sekali, jarak antar orang, berapa orang yang boleh masuk ke suatu mall atau suatu tempat straight sekali itu yang disebut social distancing. Indonesia tidak diatur sedemikian rigidnya, tiba-tiba mall ramai, pembagian sembako ramai, bandara dibuka berjubel artinya tidak pernah dilakukan dengan terencana. Overall bagi saya Indonesia tidak benar-benar melakukan pembatasan sosial," jabar dia.

Pria yang sudah dalam menekuni bidang virologi itu beranggapan iklim tropis dan kelembaban di Indonesia sebenarnya bermanfaat untuk menghambat penyebaran pandemi covid-19.

Ia menyarankan agar restaurant-restaurant fokus menyediakan tempat makan di luar ruang.

"Lebih aman memakai open space daripada yang close, akan lebih menurun risikonya memanfaatkan udara Indonesia yang panas dan lembab. Sepanjang tidak ada crowding dan dilaksankan dengan SOP yang rigid serta dipantau," jelasnya.

Pada sebuah kesempatan, ia berunding dengan Warga Negara Asing (WNA) jumlahnya tidak banyak, sekitar 5 orang, diungkapkannya kenapa banyak ditemukan bule yang enggan pakai masker di luar ruang karena secara logic jika tidak crowded maka tidak ada potensi penularan.

"Banyak bule orang luar negeri tidak memakai masker, menurut logika mereka, ini negara tropis selama tidak crowded, dan dalam jumlah massa besar ya saya tidak ada risiko, risikonya hampir nol. Kalau di ruangan ber-AC, mobil, mereka harus memakai masker," tutupnya. (*)

Penulis: Adrian Amurwonegoro
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved