Corona di Bali

Ahli Virologi di Bali Sebut Fase New Normal Bisa Dilakukan Asal Syarat-syarat ini Terpenuhi

Seorang ahli virologi asal Universitas Udayana Bali, Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika mengatakan di luar negeri sekarang

Shutterstock
Ilustrasi the new normal. 

TRIBUN-BALI, DENPASAR - Pemerintah mulai mengkaji skenario kelonggaran pembatasan aktivitas di tengah pandemi virus corona atau covid-19 atau yang baru-baru ini lekat didengar di telinga dengan istilah New Normal.

Seorang ahli virologi asal Universitas Udayana Bali, Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika mengatakan di luar negeri sekarang banyak sekali kebijakan untuk membuka sekolah dan berbagai sektor lainnya.

"Kalau saya, kasus pasti akan ada apalagi Indonesia, konfirmasi artinya hanya terdeteksi virus belum tentu sakit itu pasti ada, agar orang yang sakit segera melapor di rumah sakit dan dirawat.Tapi di atas segalanya, New Normal bisa dipakai dengan syarakat dua, satu sitem rumah sakit diperbaiki yaitu harus menyediakan kamar untuk perawatan intensif dengan ventilator Indonesia, paling tidak saya kalkulasi orang perlu rumah sakit, kemungkinan akan mengembangkan covid-19 berat dan perlu ventilator, saya hitung seluruh Indonesia butuh 12.000 sedangkan keperluan untuk Bali 200 unit kamar sehingga orang-orang yang terpapar dan mengembangkan covid-19 berat bisa dirawat dengan benar," papar Mahardika. 

Yang kedua menurutnya adalah Contact Tracing, di Bali dan di Indonesia tidak pernah dilaksanakan dengan serius. 

"di Bali, kasus terkonfirmasi per Rabu 20 Mei ini ada 371, kalau contact tracing paling tidak ada 371 keluarga harus sudah dilacak semua anggota keluarganya, apakah dilakukan, nampaknya tidak. Jadi kalau ketemu satu orang keluarga atau orang terdekat harus dideteksi," lanjutnya.

Ia pun mendukung kelonggaran pembatasan terkait covid-19. 

Menurutnya, New Normal bisa dilakukan dengan contact tracng rigid.

Bahkan ia mengaku salah satu orang mengajukan segera melonggarkan pembatasan sosial dengan syarat dua hal tadi, contact tracing bagus dan rigid, kedua sistem rumah sakit yang memadai menjamin perawatan Covid-19 sehinga bisa ditolong.

"Kalau dua hal itu tidak mungkin dilakukan sebaiknya jangan dulu dilonggarkan," ucapnya.

Namun ia berpendapat masalahnya  sekarang ada dua yaitu kemampuan atau kemauan pemerintah dan uang.

Halaman
123
Penulis: Adrian Amurwonegoro
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved