Akibat Penundaan Renovasi Daerah Irigasi, Produksi Beras di Bangli Potensi Berkurang Hingga 550 Ton

Selain dampak minimnya lahan basah, kekurangan produksi juga dipengaruhi akibat ditundanya perbaikan tanggul Munduk Bebengan.

TRIBUN BALI/MUHAMMAD FREDEY MERCURY
Kadis PKP Bangli I Wayan Sarma 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Kekurangan produksi beras di Bangli pada tahun ini berpotensi mengalami mengalami penambahan.

Selain dampak minimnya lahan basah, kekurangan produksi juga dipengaruhi akibat ditundanya perbaikan tanggul Munduk Bebengan.

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Bangli, I Wayan Sarma, Kamis (21/5/2020) menjelaskan, sejatinya kegiatan perbaikan di Daerah Irigasi (DI) Sidembunut Kanan telah diusulkan lewat Dana Alokasi Khusus (DAK) oleh Dinas PUPR Perkim Bangli.

Bahkan sudah sempat mendapat persetujuan untuk pengerjaan pada tahun 2020 ini.

Satu Pasien Covid-19 di Indonesia Bisa Menulari Tiga Orang,Lebih Kuat Penularannya 20 Kali dari SARS

Pawang Ular: Jangan Pernah Lilitkan Ular Secara Penuh di Leher, Kenali Karakteristiknya

Selama Pelaksanaan PSBB Diprediksi Ada 400.000 Kasus Kehamilan Tak Direncanakan di Indonesia

“Namun dengan adanya kebijakan dari Menteri Keuangan terkait refocusing anggaran, akhirnya kegiatan tersebut dipastikan tidak tergarap tahun ini,” bebernya.

Sarma memaparkan, DI Sidembunut Kanan atau yang biasa disebut Munduk Bebengan oleh masyarakat sekitar, mengairi sekitar 103 hektare sawah.

Jebolnya DI Sidembunut Kanan terjadi pada tahun 2019 silam akibat dampak hujan deras yang turun di wilayah Bangli.

Sarma pun tidak memungkiri dengan adanya penundaan kegiatan perbaikan, akan menambah panjang dampak pada kegiatan produktifitas sawah tersebut.

Termasuk juga berdampak pada hasil produksi beras Bangli tahun ini.

“Rata-rata produksi beras di Bangli sebanyak 18 ribu ton per tahun. Dengan adanya penundaan ini, maka potensi 550 ton beras akan berkurang tahun ini. Jumlah tersebut merupakan produksi beras per tahun yang mampu dihasilkan 103 hektare sawah yang diairi dari Munduk Bebengan,” ungkapnya.

Dikatakan pula, sejatinya kebutuhan beras bagi masyarakat Bangli mencapai 22 ribu ton per tahun.

Oleh sebab itu, produksi sebanyak 18 ribu ton tersebut diakui masih tergolong kurang.

Mantan Sekdis PKP itu menambahkan untuk menutup kekurangan produksi, pihaknya telah berupaya melakukan perbaikan di sejumlah jaringan irigasi dengan tujuan meningkatan produktifitas. Dimana hingga kini masih dalam proses pembangunan.

Strategi Pikat Wisman Australia agar Memilih Bali untuk Berlibur Pasca Pandemi Corona

Ramalan Zodiak 21 Mei 2020: Hari Keberuntungan Libra, Kesehatan Scorpio Dalam Kondisi Terbaik

WIKI BALI - 5 Prodi di Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Denpasar

Adapun upaya lain yakni dengan cara penganekaragaman pangan, untuk mengurangi konsumsi beras masyarakat.

“Upaya ini memang belum terlalu diminati oleh masyarakat, namun tetap kami sosialisasikan secara perlahan. Dilain sisi, kebutuhan beras di Bangli juga dibantu oleh distribusi dari kabupaten lain. Baik dari Gianyar maupun Klungkung. Sehingga harga suatu kebutuhan tidak melonjak dan masyarakat masih tetap mampu untuk membeli,” tandasnya. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved