Palinggih Kuno Ditemukan Utuh Dikedalaman 4 Meter, Tertimbun Material Erupsi Gunung Agung

Palinggih Kuno Ditemukan Utuh Dikedalaman 4 Meter, Tertimbun Material Erupsi Gunung Agung

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Sebuah palinggih dengan arsitektur klasik ditemukan utuh, setelah tertimbun bertahun-tahun di wilayah Subak Pegatepan,Tempek Pemedilan, Desa Kamasan, Selasa (26/5) 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA- Sebuah situs berupa palinggih dengan arsitektur klasik ditemukan di wilayah Subak Pegatepan,Tempek Pemedilan, Desa Kamasan, Klungkung.

Pelinggih kuno itu ditemukan masih kokoh dan utuh, walau sempat terkubur material erupsi gunung agung tahun 1963 silam.

Penemuan palinggih kuno ini berawal dari upaya Klian Pura Puseh Katyagan, Ida Bagus Danendra untuk mencari lima palinggih yang erat kaitanya dengan keberadaan Pura Puseh Katyagan.

Pura ini lokasinya sekitar 50 meter dari penemuan situs.

Pencarian palinggih itu awalnya untuk melengkapi purana terkait karya agung yang akan digelar pengempon Pura Puseh Katyagah, tanggal 7 Oktober mendatang

" Setelah bertanya ke sulinggih, kami diminta untuk melengkapi purana (catatan sejarah) tentang keberadaan pura Katyagan. Ada lima palinggih yang erat kaitanya dengan Pura Katyangan yang harus kami lengkapi," jelas Kelihan Pura Katyagan, Ida Bagus Danendra, Selasa (26/5).

lima palinggih yang harus dilengkapi tersebut yakni Palinggih Pemajangan Ida Sang Hyang Betari Gangga, Palinggih Bedugul Ida Batari Uma, Palinggih Ida Batara Palinggih Gunung Batur Ida Sang Hyang Dewi Danuh, Palinggih Surya dan Pilah/Batu Lapak. Namun diantara palinggih itu, hanya Palinggih Bedugul yang sempat hilang dan lokasinya belum diketahui secara pasti

" Saya berusaha cari informasi dari para tetua, bahwa dulu sebelum gunung Agung erupsi tahun 1963 dilokasi ini merupakan alur sungai yang fungsinya sebagai petirtaan. Dulu konon di lokasi ini ada sebuah pelinggih Bedugul," ungkap Klian Pura Puseh Katiagan, Ida Bagus Danendra, Selasa (26/5).

Setelah memperkirakan titik lokasi yang tepat, Ida Bagus Danendra dan 4 orang warga lainnya mulai menggali tanah untuk mencari keberadaan palinggih tersebut. Penggalian dimulai Minggu (26/4) lalu, dan dilakukan setiap hari.

Upaya pencarian mereka awalnya tidak mudah. beberapa mereka kali gagal, karena menggali pada titik yang tidak pas. Namun tekad dan keyakinan, membuat mereka terua berusaha.

Halaman
123
Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved