Breaking News:

Citizen Journalism

Ada yang Tak Kalah Berbahaya dari Rasisme, Yaitu Tubuh Sosial

Namun, banyak pihak tak menyadari jika sesungguhnya fenomena “tubuh sosial” tak kalah berbahaya dibanding rasisme.

istimewa/dok.pribadi
Wahyu Budi Nugroho (Sosiolog Universitas Udayana) 

Malah, terdapat penelitian yang menyebutkan jika kini penampilan yang menarik lebih penting daripada kompetensi di dunia kerja.

Tentu, hal-hal semacam ini dapat menimbulkan frustasi bagi mereka yang merasa tak berpenampilan menarik atau merasa tak memiliki keparasan tampang.

Padahal, berbagai kualitas tersebut umumnya bersifat bawaan atau alamiah, dan sulit diubah pada batas-batas tertentu.

Di abad ke-21 ini, rasisme ibarat virus SARS, meskipun praktik-praktiknya tak lagi sebanyak di abad sebelumnya, namun tingkat fatalistiknya tinggi.

Sementara, tubuh sosial ibarat Covid-19, didera oleh jauh lebih banyak orang, namun dengan implikasi fatal yang lebih rendah.

Akan tetapi, kita juga tak bisa menyepelekannya, karena karakter yang disebutkan belakangan kerapkali diam-diam menimbulkan dampak sampingan tak kasat mata yang tak kalah berbahaya.

Sejak dahulu hingga kini, praktik-praktik yang didasarkan pada tubuh sosial dalam kehidupan sehari-hari lebih intens dan masif terjadi melampaui yang kita bayangkan, bahkan pada hal-hal yang tak kita duga sebelumnya.

Bagaimana seorang guru lebih memperhatikan siswa-siswinya yang cantik atau tampan di kelas, bagaimana seorang dosen cenderung memberikan nilai bagus pada mahasiswa atau mahasiswi dengan keparasan tampang dan keidealan tubuh, juga bagaimana kita cenderung menerima dan berprasangka baik terhadap mereka yang cantik atau tampan dibandingkan dengan mereka yang tidak.

Inilah mengapa tubuh sosial sebetulnya tak kalah berbahaya, ia memberikan berbagai penilaian picik melampaui ciri fisik suatu ras atau suku bangsa.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved