Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Corona di Bali

Wayan Koster: Saya Tak Terpancing Cepat-cepat Buka Pariwisata Bali

Gubernur Bali Wayan Koster lagi-lagi menegaskan dirinya sampai saat ini belum berencana untuk membuka pariwisata di Pulau Dewata.

Tayang:
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Ady Sucipto
Tribun Bali / Zaenal Nur Arifin
Suasana di area publik keberangkatan terminal internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali hari ini, Rabu (1/4/2020) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Gubernur Bali Wayan Koster lagi-lagi menegaskan dirinya sampai saat ini belum berencana untuk membuka pariwisata di Pulau Dewata.

Hal itu ia tegaskan kembali saat ditemui oleh sejumlah media usai menyerahkan Bantuan Sosial Tunai Sumbangan Pembinaan Pendidikan (BST-SPP) di Gedung Wiswa Sabha Kantor Gubernur Bali, Kamis (4/6).

"Saya tidak akan mau terpancing dengan desakan untuk cepat-cepat membuka pariwisata. Kesehatan masyarakat itu harus betul-betul diutamakan, apalagi Bali sebagai destinasi wisata terbesar itu sangat rawan," katanya.

Koster mengatakan, meski dirinya sampai saat ini belum mau membuka pariwisata, akan tetapi bukan berarti melakukan penolakan terhadap berbagai usulan yang masuk.

Ia mengaku mempertimbangkan berbagai usulan tersebut, namun pembukaan pariwisata Bali hanya menunggu waktu yang tepat.

"Jika betul-betul kita sudah kondusif, artinya Bali ini bersih dari Covid-19 dan terhindar dari penularan, kita pasti memikirkan ke situ (membuka pariwisata). Jadi bukan berarti kita menolak, hanya soal waktu saja," kata dia.

Menurutnya, sektor pariwisata akan dibuka terakhir jika dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.

Jika pun dibuka hari ini, Koster menegaskan tidak akan ada wisatawan yang datang dikarenakan penerbangan dari luar negeri masih ditutup.

Di sisi lain, Koster meminta para pengusaha kepariwisataan di Bali untuk bersabar, terlebih mereka sudah selama berpuluh-puluh tahun menikmati hasil usahanya di Bali.

"Masak sudah berpuluhan tahun menikmati hasil usahanya, hanya tiga bulan endak tahan. Jangan dong begitu.

Ini harus disikapi dengan kebersamaan, dengan pemahaman, dengan empati. Jadi endak bisa buru-buru" tuturnya.

Ia juga menyesalkan keputusan sejumlah pengusaha pariwisata yang sudah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan merumahkan karyawannya tanpa gaji.

"Seharusnya jangan buru-buru. Ini kan baru tiga bulan, Maret, April, Mei, kan baru tiga bulan," sesalnya.

Badung Cek ODTW

Sementara itu, Pemkab Badung mulai menyiapkan tatanan kenormalan baru atau new normal.

Bahkan sesuai rencana sektor pariwisata pun akan dibuka, namun tetap dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Menindaklanjuti hal tersebut Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Badung akan turun langsung melihat kesiapan Objek Daya Tarik Wisata (ODTW), hotel, dan restoran pada Jumat (5/6) hari ini.

“Kami besok (hari ini, red) melakukan pengecekan, mulai dari kawasan ITDC Kuta Selatan,” kata Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Badung, I Made Badra, kepada Tribun Bali, Kamis (4/6).

Birokrat asal Kuta itu, mengatakan saat ojek wisata ingin membuka mereka harus melengkapi beberapa persyaratan yang wajib dipenuhi.

Di antaranya penyediaan tempat cuci tangan dan alat untuk cek suhu tubuh. Termasuk kesiapan menerapkan social distancing maupun phsycal distancing.

“Jika persyaratan tidak dipenuhi jangan harap bisa beroperasi. Ini juga untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 di Badung,” jelasnya.

Setelah objek wisata mengajukan untuk buka, Dispar Badung akan melakukan verifikasi dengan melakukan pengecekan langsung.

“Jadi SOP jelas. Nanti tinggal dicek oleh tim saat dilakukan verifikasi lapangan,” tegas Badra.

Sekretaris Daerah (Sekda) Badung I Wayan Adi Arnawa menegaskan, dengan dibukanya kembali sektor pariwisata diharapkan dapat menggerakkan roda perekonomian.

Terlebih pendapatan Badung bersumber dari pariwisata, sehingga mau tidak mau harus dibuka kembali.

Namun ditegaskan harus menerapkan protokol kesehatan.

“Bila tidak mengacu pada protokol kesehatan, dengan berat hati kita tidak akan izinkan beroperasi,” katanya.

Menariknya, meski pemerintah maupun desa adat belum memutuskan tempat wisata kembali dibuka, sudah ada kawasan wisata yang dipadati wisatawan asing maupun lokal.

Contohnya Pantai Batu Bolong, Canggu, Kuta Utara, Badung.

Dari pantauan Tribun Bali, Kamis (4/6) sore, terlihat wisatawan asing maupun lokal memadati Pantai Batu Bolong untuk bermain air, menikmati sunset, maupun surfing.

Semakin menjelang matahari tenggelam, wisatawan juga makin bertambah terus.

Bahkan banyak dari mereka tidak mengenakan masker kain dan tidak melakukan physcal distancing.

Spanduk bertuliskan “Kawasan Pantai Ditutup untuk Umum sebagai Langkah Pencegahan Penyebaran Covid-19" masih dipasang, namun banyak wisatawan yang ke pantai.

“Perlu saya klarifikasi untuk tamu-tamu asing yang surfing di sini diperbolehkan, kami secara umum tidak membuka pantai.

Belum membuka pantai. Tapi dapat dilihat banyak wisatawan masuk kawasan pantai seperti ke Batu Bolong,” ungkap Perbekel Desa Canggu, I Nengah Lana, saat ditemui kemarin.

Ia menyampaikan, pihaknya memiliki petugas terbatas. Tapi di sisi lain banyak akses pintu-pintu menuju pantai.

Akibatnya petugas kewalahan di lapangan terkait dengan penjagaan pantai.

“Kami ikuti arahan kebijakan pemerintah dan pantai masih kami tutup. Petugas terbatas kewalahan di lapangan melakukan penjagaan.

Banyak wisatawan kucing-kucingan dengan petugas. Kita jaga di timur masuknya di barat, kita jaga di tengah masuknya di timur,” imbuh Lana.

Mengenai protokol kesehatan new normal obyek wisata, pihaknya tentu akan menerapkan ketentuan tersebut.

Ia pun sudah membuat surat edaran mengenai protokol kesehatan new normal di kawasan wisata Desa Canggu.

“Restoran di sini sudah mulai buka kembali, kemudian untuk bar masih kita tutup. Untuk live music dan diskotik masih kita tutup karena akan mengundang banyak orang,” katanya. (sui/gus/zae)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved