Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Kepala DLHK Kota Denpasar Meninggal

Mengenang Kepala DLHK Denpasar, Dikenal Senang Bekerja, Tak Pernah Mengeluh Sakit

Jumat (5/6/2020) pukul 08.03 Wita, I Ketut Wisada menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Denpasar, Bali.

Tayang:
Penulis: M. Firdian Sani | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Putu Supartika
Kadis DLHK Kota Denpasar, I Ketut Wisada semasa hidup. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Amor ring acintya. Kabar duka datang dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar.

Orang nomor satu di dinas itu, I Ketut Wisada, tutup usia.

Dia dikenal sebagai pekerja keras.

Jumat (5/6/2020) pukul 08.03 Wita, I Ketut Wisada menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Denpasar, Bali.

Ditemui di KMJ RSUP Sanglah, anak laki-laki almarhum, Ketut Gede Swara Siddhi Yatna, tampak berusaha tegar menerima kenyataan yang ada.

Ia juga terlihat sibuk mengurus kepergian sang ayah tercinta.

BREAKING NEWS : Amor Ring Acintya, Kadis DLHK Kota Denpasar Meninggal Dunia Hari Ini

Beberapa kali dia terlihat mengangkat telepon dan mondar-mandir memasuki ruang Forensik RSUP Sanglah untuk menyelesaikan urusan administrasi.

Keluarga dan kerabat satu persatu datang menjenguk, memberikan dukungan untuknya agar dikuatkan dalam melewati semuanya.

Tutde, sapaan akrab Gede Swara Siddhi Yatna, mengatakan bahwa pertemuan terakhirnya dengan sang ayah tidak mendapati firasat apapun perihal kepergian sang ayah untuk selamanya.

Sebab, masuk rumah sakit sudah hal biasa selama almarhum masih hidup. Wisada memang rutin untuk cuci darah ke rumah sakit.

"Memang Selasa pagi, (2/6/2020) lalu sudah waktunya beliau cuci darah, karena memiliki penyakit gagal ginjal dan diabetes. Cuci darahnya di Rumah Sakit Trijata Bhayangkara, Denpasar," katanya.

Ketut Wisada diketahui memilki riwayat diabetes sejak 17 tahun yang lalu, dan mengalami gagal ginjal sejak 8 bulan belakangan.

Setelah cuci darah di RS Trijata Bhayangkara, almarhum mengeluh pusing, dan selang beberapa saat kemudian pingsan.

Saat itulah almarhum dirujuk ke IGD RSUP Sanglah untuk mendapat perawatan lebih lanjut di Ruang ICU RSUP Sanglah.

"Bapak tidak sadarkan diri karena gula darahnya drop, dan kemudian dilarikan segera ke Rumah Sakit Sanglah di ICU. Dirawat di Sanglah karena juga ada pecah pembuluh darah di otak," tutur Tutde.

Dengan kondisi yang tidak sadarkan diri selama empat hari menjalani masa perawatan, almarhum sesekali menunjukkan tanda-tanda membaik.

Namun, kondisinya kembali memburuk dan akhirnya pada Jumat (5/6) pukul 08.03 Wita, Wisada menghembuskan nafas terakhirnya.

Tutde merasa terpukul atas kepergian sang ayah tercintanya, apalagi selama ini banyak memori indahnya bersama almarhum.

"Pokoknya bapak sangat banyak memori dengan saya. Gak terhitung," kata Tutde sambil menahan isak tangis mengenang ayahnya.

Tutde yang menjaga sang ayah selama masa perawatan di RSUP Sanglah terlihat berusaha mengikhlaskan kepergian sang ayah.

"Padahal dua bulan lagi beliau ulang tahun. Sekarang usianya 59 tahun mau ke 60 tahun," paparnya.

Semasa hidup, Ketut Wisada dikenal sebagai sosok pekerja keras, bersemangat dan terkesan selalu kuat.

Ia tak menampakkan keluhan atas sakit yang dideritanya.

Hal itu diutarakan langsung oleh koleganya, yakni Dayu Indi selaku Kabid Penaatan Lingkungan di DLHK Kota Denpasar.

"Beliau aktif, orangnya memang senang kerja. Beliau tidak pernah memperlihatkan sakitnya, orangnya selalu semangat," kata Dayu Indi yang disetujui Cok Mirah, Kabid Pengendalian Lingkungan di DLHK.

Ketut Wisada juga dikenal sebagai sosok yang dermawan. Ini seperti yang diungkapkan oleh menantunya, Nyoman Jagat.
"Beliau ini bares, senang memberi atau rajin memberi,” jelas Nyoman.

Kini almarhum akan dipulangkan ke kampung halamannya di Banjar Anyar Kelod, Desa Penyaringan, Kecamatan Medoyo, Kabupaten Jembrana untuk disemayamkan. Ketut Wisada lahir pada 24 Agustus 1960.

"Mengenai kapan waktunya, kami masih memusyawarahkan dengan keluarga besar, karena kondisi sekarang kan harus minta izin dulu supaya tidak gimana-gimana," ucap Tutde.

Tutde bersama keluarganya langsung berangkat menuju Negara, Jembrana, untuk membicarakannya.

Ketut Wisada meninggalkan satu istri bernama Putu Purwanti dan tiga orang anak. Anak pertama bernama Putu Ratih Prabandari, lalu Nyoman Sukma Pramasti, dan Ketut Gede Swara Siddhi Yatna (Tutde).

Ketut Wisada merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Saudara-saudaranya yaitu Ni Made Wiasih, Nyoman Wiyasa, Ni Ketut Winingsih, Made Wiryawan, dan Ni Nyoman Wisri Kembar Budi.

Ketut Wisada menempuh pendidikan mulai dari SD 1 Penyaringan/Mendoyo, SMP 1 Mendoyo, SMA 1 Riau di Provinsi Riau.

Ia kemudian kuliah mengambil jurusan Manajemen di Universitas Riau, dan S2 berkuliah di Unud mengambil jurusan Ekonomi Pembangunan.

Sebelum menjabat sebagai Kadis DLHK Kota Denpasar, Ketut Wisada bekerja di Petikemas Surabaya, lalu balik ke Bali dan bekerja di Satgas Rumah Sakit Wangaya.

Tak lama kemudian ia menjabat sebagai Kabag Ekonomi Setda Kota Denpasar, dan Asisten Wali Kota Denpasar.(*).

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved