Corona di Bali

Cek Kesiapan, Minggu Depan Kemenparekraf Dijadwalkan Kunker ke Bali

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio, bersama jajarannya dijadwalkan akan berkunjung ke Bali pada 16-18 Juni 2020

Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Turis lokal saat berpose di lokasi Tukad Bengawan. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio, bersama jajarannya dijadwalkan akan berkunjung ke Bali pada 16-18 Juni 2020. Kunjungan kerja (kunker) ini, guna melihat dan mengecek kesiapan Bali dalam rangka rencana re-opening pariwisata. Pengecekan akan dilakukan di beberapa lokasi, yakni Bandara Ngurah Rai, hotel khususnya di Nusa Dua area, dan beberapa obyek wisata. Setelah itu, acara dilanjutkan rapat antara kementerian bersama Pemerintah Provinsi Bali, dan asosiasi serta insan pariwisata di Bali.

“Kalau kapan pastinya re-opening Bali, saya tidak bisa berkomentar. Sebab itu adalah kewenangan gubernur dan pemda,” tegas Ketua PHRI Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, kepada Tribun Bali, Minggu (14/6/2020). Rai, sapaan akrabnya, menjelaskan pembahasan tentang waktu yang tepat re-opening ini akan dibahas saat pertemuan nanti. Sebab pariwisata Bali, adalah motor penggerak perekonomian Pulau Dewata. Dan menjadi sektor penopang hajat hidup orang banyak.

Sehingga harus dicarikan solusi terbaik, agar tidak terlalu lama mati suri. Pria yang juga Ketua BPPD Badung ini, memperkirakan pariwisata Bali akan dibuka perlahan. Walau demikian, ia mengaku bahwa kesiapan hotel dan villa di Bali sudah sangat rampung. “Sebab selama ini kami kontinyu menyiapkan SOP dan training staf hotel untuk ini, sehingga pada saat ditentukan re-opening nanti kami sudah siap,” tegasnya.

Lanjutnya, kesiapan itu telah mencapai 90 persen. Ia tak menampik, rencananya pilot project re-opening nanti adalah hotel di kawasan ITDC. Namun jika telah berjalan perlahan, tentu insan pariwisata di Bali tidak bisa memaksakan kehendak turis untuk tinggal di suatu tempat. “Mungkin nanti ada yang memilih dan meminta tinggal di Kuta, Legian, Seminyak, Canggu, bahkan Sanur, dan Ubud, begitu pun daerah lainnya semua sudah siap,” katanya.

Prinsipnya, tegas dia, anggota PHRI di seluruh Bali sudah siap menyambut re-opening ini. Ia mengingatkan, bahwa saat nanti mulai berjalan tidak serta merta okupansi akan tinggi. “Paling tingkat hunian hanya single digit, mungkin 5-9 persen,” sebutnya. Pasalnya, untuk turis domestik yang dominan datang ke Bali adalah dari wilayah Jakarta dan Surabaya. Dua wilayah ini masih cukup ketat, karena transmisi lokal masih naik. Kendala lainnya adalah tes Swab dan PCR yang cukup mahal kalau mau masuk Bali.

Begitu juga pasar internasional, masih banyak negara yang lockdown dan social distancing. Sehingga turisnya pun belum bisa dan boleh leluasa plesir ke luar negeri, termasuk ke Pulau Dewata. Walau demikian, dalam beberapa meeting via online baik pemerintah pusat, daerah, dan industri saling bahu membahu untuk meyakinkan dunia luar ihwal potensial Bali. “Kini pangsa pasar China, Jepang, Korea, dan Australia sangat potensial,” imbuhnya.

Sehingga untuk meyakinkan turisnya datang ke Bali nanti, dibutuhkan kerjasama dan koordinasi bilateral antar dua negara. “Memang sampai saat ini, belum dibuka perbatasannya negara itu. Pada saatnya nanti, kemungkinan besar Juli pertengahan mungkin akan dibuka 4 negara tersebut, internasional flightnya,” kata Rai. Maka dari itu, sebelum turis asing ini nanti datang kembali ke Bali, Kemenparekraf ingin datang mengecek kesiapan langsung Bali.

Rai memastikan, bahwa SOP di masing-masing hotel telah disiapkan. Semuanya sesuai dengan arahan pusat terkait CHS, yakni Cleanliness, Health, Safety yang sesuai dengan protokol kesehatan.

I.B Agung Partha, Ketua BTB/Gipi Bali, menyatakan kemungkinan besar pertumbuhan pariwisata akan mulai di bulan Oktober 2020. “Mengingat pintu gerbang internasional, akan dibuka pada periode ini,” katanya. Namun sebelum ini, industri pariwisata di Bali membutuhkan dana talangan / dana dukungan. Untuk itu diperlukan sinergi pembentukan team think tank, dalam memperjuangkan dana hibah daerah ini yang berfokus pada penanganan imbas dampak Covid-19.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, menjelaskan Indonesia mengalami penurunan ekonomi cukup dalam yakni minus 1,14  persen pada kwartal satu 2020. Dan disinyalir akan semakin dalam untuk kwartal berikutnya. “Diantara 34 provinsi, untuk provinsi Bali, diperlukan  perhatian khusus karena pertumbuhan ekonomi Bali ditopang pariwisata,” jelasnya. Kontribusi pariwisata terhadap ekonomi Bali sebesar 53, 65  persen.

“Salah satu kriteria untuk menggairahkan pariwisata Bali, agar tetap bertahan adalah penekanan persiapan protokol SOP industri pariwisata, dan pembayaran non tunai / contactless dengan metode QRIS,” tegasnya. Semua pihak masih berharap Bali akan bangkit, dengan cara yang masih bertahap. Serta yakin dengan adanya inbound wisman 2020, maka proyeksi pertumbuhan ekonomi 5-6 persen di 2021 bisa terjadi.

Levie Lantu, CEO BaliCEB, menyampaikan fakta bahwa 1,2 juta masyarakat Bali bergantung langsung pada pariwisata dari 5.300 hotel dan 2.850 restoran. Data ini berdasarkan data Dinas Pariwisata Bali, dari populasi 4,3 juta masyarakat Bali. “Ini merupakan tantangan, namun kita harus melihatnya secara kreatif untuk menghasilkan strategi dan inovasi agar mampu bertahan sampai Bali siap dibuka,” ujarnya.

Putu Astawa, Kadisparda Bali, sangat prihatin dengan kondisi saat ini. Ia menyatakan transmisi lokal juga masih terjadi. “Kedepannya kita harus meningkatkan upaya- upaya dan sumber daya kita untuk memperkuat penanganan Covid-19 berbasis desa adat, desa dinas, kelurahan kemudian mengintenskan tracing-tracing, serta tes, sehingga presentasi kesembuhannya akan semakin tinggi,” katanya. Selain itu terkait new normal, Provinsi Bali telah menyelesaikan tatanan era baru dan sedang menunggu surat edaran untuk segera diterbitkan.

Ari Juliano Gema, Staf Ahli Kemenparekraf, dalam rilis yang diterima Tribun Bali mengatakan sebagian besar dari realokasi anggaran difokuskan untuk bagaimana sektor pariwisata bisa bangkit Kembali. “Riset juga membuktikan bahwa Bali mengungguli pulau-pulau wisata level dunia dibandingkan Ibiza dan lainnya,” jelasnya dalam pertemuan online beberapa waktu lalu. Berdasarkan pembicaraan bersama Gugus Tugas Covid 19, kata dia, terdapat 9 sektor sudah bisa dibuka, termasuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Pihak Kemenparekraf juga turut mengapresiasi keputusan Gubernur Bali yang berhati-hati, dan selaras dengan Presiden Jokowi yang menyampaikan untuk berhati-hati dan tidak tergesa-gesa, atau terburu-buru,” tegasnya. Intinya, komunikasikan semua persiapan dengan semua stakeholder, forum pimpinan daerah, tokoh masyarakat, dan semua pihak sehingga nantinya ketika daerah sudah memutuskan siap untuk membuka Kembali, semua stakeholders siap untuk mendukung. (ask)

Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved