Breaking News:

Kuasa Hukum Penyiram Air Keras Novel Salahkan Penanganan Tim Medis

Novel melihat ada kejanggalan dalam persidangan kasus penyiraman air keras terhadap dirinya beberapa waktu lalu.

. Tribunnews/Herudin
Pelaku penyiraman penyidik senior KPK, Novel Baswedan dibawa petugas untuk dilakukan penahanan, di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Sabtu (28/12/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Dua anggota Polri, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir yang menjadi terdakwa penyiraman air keras penyidik KPK, Novel Baswedan menyatakan tak berniat melakukan penganiayaan berat terhadap Novel.

Hal itu disampaikan dalam nota pembelaan atau pleidoi terdakwa yang dibacakan penasihat hukum dari Divisi Hukum Polri, dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Senin (15/6/2020).

Dalam sidang ini, majelis hakim, tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan penasihat hukum terdakwa hadir di ruang sidang. Sementara, kedua terdakwa mengikuti persidangan dari Rumah Tahanan (Rutan) Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, melalui telekonferensi video.

Tim Divisi Hukum Polri yang diketuai Rudy Heriyanto Adi Nugroho, menyatakan dakwaan jaksa kepada kedua terdakwa adalah tidak terbukti.

Menurut mereka, tuntutan satu tahun penjara dari jaksa terhadap kedua anggota Polri itu tidak didasarkan pada fakta-fakta persidangan. "Kami menyayangkan dalam tuntutan tidak memperhatikan fakta di persidangan," ujarnya.

Dia menyatakan penyiraman air keras yang menyasar Novel pada 11 April 2017 lalu karena didasari rasa benci pribadi terdakwa Rahmat Kadir Mahulette karena Novel dinilai telah mengkhianati institusi Polri.

"Perbuatan didorong rasa benci pelaku. Penyiraman dipicu kebencian terdakwa kepada korban yang tidak menjaga jiwa korsa. Sikap patriotik terdakwa merasa tercabik. Terdakwa ingin memberi pelajaran kepada saksi korban," kata dia.

Disampaikan juga bahwa tidak ada perintah dari atasan maupun rekayasa dalam rangkaian kasus ini. "Tidak ada unsur peranan atasan, murni karena keinginan terdakwa sendiri," ujarnya.

Dia melanjutkan, penyiraman air keras kedua terdakwa kepada Novel pada subuh hari kala itu dilakukan secara spontanitas dan tidak ada unsur perencanaan melakukan suatu tindak pidana.

"Tidak berniat menganiaya berat hanya memberi pembelajaran saja. Tidak ada niat untuk membunuh. Walaupun ada kemampuan untuk itu. Arah siraman ditujukan pada tubuh," ujarnya.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved