Breaking News:

Tahun Akademik 2020/2021, Unud Utamakan Pembelajaran Daring dan Siapkan Kombinasi Tatap Muka

Wakil Rektor IV Unud, Prof. Dr. Ida Bagus Wyasa Putra, S.H, M.Hum menjelaskan bahwa sejumlah pembahasan bersama sudah dilakukan

Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro
Gedung Rektorat Universitas Udayana, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, Bali, Sabtu (14/3/2020). 

Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, BALI - Universitas Udayana Bali (Unud) tengah mempersiapkan standar operasional prosedur (SOP) Tatanan Normal Baru Tahun Akademik 2020/2021 sesuai instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Makarim yang masih mewajibkan pembelajaran secara daring.

Wakil Rektor IV Unud, Prof. Dr. Ida Bagus Wyasa Putra, S.H, M.Hum menjelaskan bahwa sejumlah pembahasan bersama sudah dilakukan terkait dengan persiapan aktivitas pembelajaran tahun akademik 2020/2021 Universitas Udayana di tengah pandemi covid-19.

Instruksi Rektor nomor 3 tahun 2020 tentang Tatanan Normal Baru di Universitas Udayana dalam poin pembelajaran menyebutkan Unud tetap mengutamakan pembelajaran secara daring namun juga diizinkan untuk dikombinasikan pembelajaran secara daring dan tatap muka dengan prinsip utamanya proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik.

"Kebijakannya nomor satu tetap daring namun apabila ada kebutuhan tatap muka juga diizinkan, bisa mengkombinasikan antara daring dan tatap muka dengan kepatuhan protokol kesehatan yang diatur," kata Prof. Wiyasa kepada Tribun Bali Selasa (16/6/2020).

Sekda Bali Ajak Pemangku Kepentingan Rapatkan Barisan Karena Meningkatnya Transmisi Lokal Covid-19

Satu Pedagang dan Seorang Balita di Karangasem Dinyatakan Positif Covid-19

Dimulai Hari Ini, Begini Cara Klaim Diskon Listrik PLN Pelanggan 900 VA dan 1.300 VA

Lanjut dia, saat ini sedang disusun SOP khusus bagi dosen dan mahasiswa atau mahasiswa baru terkait kondisi kesehatan dan zona tempat asal atau tempat tinggal sebagai bagian dari keterpatuhan protokol kesehatan jika akan dilakukan pembelajaran tatap muka.

Sehingga, pilihan pelaksanaan pembelajaran diserahkan sepenuhnya kepada dosen dengan memperhatikan keterpenuhan persyaratan protokol kesehatan.

"Jadi kesepakatan antara dosen dan mahasiswa, dosen tidak boleh memaksa, artinya demokratis, akan di-list dulu. Mahasiswa peserta kuliah apakah sehat apakah berasal dari zona mana diskrining, kemudian kelas boleh asal tidak lebih dari 20 orang, bagi mahasiswa sakit flu atau sakit apa, tidak nyaman silakan daring, jadi sangat demokratis untuk memenuhi kebutuhan mental mahasiswa dan dosen," jabarnya.

Disinggung terkait apakah hal itu tidak bertentangan dengan instruksi Mendikbud, Prof. Wyasa berpendapat bahwa hal itu sama sekali tidak bertentangan karena tujuan utamanya adalah pencegahan penyebaran covid-19 serta menjaga kesehatan diri dan orang lain.

"Kebijakan beliau (Mendikbud) harus disikapi dengan kontekstual sesuai dengan perkembangan kondisi pandemi lokal. Pesan utamanya jangan sampai kampus menjadi klaster baru dalam penyebaran covid-19," kata dia.

Terkait penerimaan mahasiswa baru, menurut Prof Wyasa, masih akan terus dievaluasi mekanisme daring atau tatap muka dengan mempersiapkan tim panitia protokol kesehatan covid-19 Unud.

"Rencananya tes mahasiswa baru yang lokal bisa langsung datang, kami siapkan tim panitia protokol tapi masih dilihat evaluasinya sesuai perkembangan situasi," ujarnya.

"Sedangkan rapid dan swab bagi mahasiswa belum ada kebijakan khusus, kami masih utamakan protokol kesehatan umum, penggunaan masker, jaga jarak, pemeriksaan suhu badan dan lainnya yang sudah diatur sedemikian rupa," pungkas Ketua Satgas Unud Melawan Covid-19 itu. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved