Tukar Sampah dengan Beras Menjamur di Gianyar, Cita-cita Made Janur Terwujud

Minggu (21/6/2020), prajuru Banjar Apuh, Desa Lodtuduh, Ubud melakukan kegiatan tukar sampah dengan beras.

Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Foto: Kegiatan menukar sampah dengan beras di Banjar Apuh, Desa Lodtrunduh, Ubud, Minggu (21/6/2020) 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – “Pembagian sembako selama ini menjadi sebuah kegiatan sosial yang kerap mengundang kecemburuan antar warga. Sebab, ada yang dapat dan tidak atau bahkan sama-sama dapat, namun yang satu ekonominya lebih mampu, juga menimbulkan kecemburuan. Itulah yang ingin saya rubah,” ujar I Made Januryasa pencetus program menukar sampah dengan beras.

Made Janur sapaannya, merupakan warga Banjar Jangkahan, Desa Batuaji, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, Bali.

Minggu (21/6/2020), ia mendampingi prajuru Banjar Apuh, Desa Lodtuduh, Ubud, Gianyar, melakukan kegiatan tukar sampah dengan beras.

Ini merupakan banjar ke delapan di Bali yang mengadopsi programnya.

Pedagang Ayam Potong Pinggir Jalan di Sesetan Denpasar Diwajibkan Masuk Pasar

AC Milan Tercecer ke Peringkat 9, Makin Berat Lolos ke Kompetisi Antarklub Eropa Musim Depan

Petani Asal Besakih Curi HP Pemedek di Sekitar Area Pura Besakih

Mendapatkan beras dalam kegiatan ini relatif mudah, yakni hanya membawa barang-barang bekas.

Seperti plastik, baju bekas layak pakai, peralatan rumah tangga dan alat sekolah.

Mekanismenya, memakai sistem poin.

Pertama, plastik yang sangat sulit dipungut seperti bungkus kacang,permen, sedotan dan saset sampo, masing-masing seberat 1 Kilogram (Kg) mendapatkan 1 poin.

Jika dalam kondisi basah dan kotor maka dihitung 2 Kg sama dengan 1 poin.

Sementara untuk botol plastik, 3 Kg sama dengan 1 poin, dan ember rongsokan serta kaleng seberat 4 kg sama dengan 1 poin.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved