Corona di Bali

Seminar Online Facing the New Normal Phase 2020, dr. Fani Sebut Akan Ada After Effect

Seminar Online Facing the New Normal Phase 2020, dr. Fani Sebut Akan Ada After Effect bagi Kesehatan Pasien COVID-19 Meski Telah Sembuh

Istimewa
Seminar online Facing the New Normal Phase 2020 dengan tema 'Denpasar Cerdas, Covid-19 Bablas' 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Noviana Windri Rahmawati

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ketidakpatuhan masyarakat akan larangan dari pemerintah untuk social distancing dan melakukan seluruh protokol kesehatan masih sering ditemukan.

Umumnya, ketidakpatuhan ini dilakukan oleh anak muda yang merasa bahwa diri mereka sehat dan apabila terkena virus Covid-19 pun bisa sembuh.

dr. Putu Eka P. Kefani yang merupakan Co Founder Komunitas Sadar Sehat Bali, memaparkan bahwa akan ada dampak kesehatan lainnya bahkan saat pasien telah dinyatakan sembuh dari virus tersebut.

“Akan ada after effectnya bagi kesehatan. Seperti pada saraf. 1/3 kasus Covid-19 di China menyerang saraf yang mengganggu indra penciuman hingga menyebabkan stroke. Beberapa kasus juga tetap merasa pusing, sesak, dan nyeri meskipun dinyatakan telah sembuh Covid-19. Kedua, pada Jantung. Pengidap Covid-19 dapat mengalami jantung akut serta serangan jantung,” ujar Dokter Keluarga BPJS Tabanan tahun 2017 hingga saat ini.

Ini Zodiak yang Masuk Dalam Daftar Pemalas dan Bekerja Keras, Apa Zodiakmu Diantaranya ?

Pesan Kalina Ocktaranny Setelah Cerai dengan Insank Nasruddin, Tulis Kata-kata Bijak dan Menyentuh

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ajak Kader PKK Tak Sekadar Berwacana

Hal ini disampaikannya dalam seminar online yang diselenggarakan oleh Practional PR Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya, Minggu (21/06/20), dengan judul 'Facing the New Normal Phase 2020'.

“Masih ada beberapa dampak lainnya yang akan timbul saat pasien sudah dinyatakan sembuh, seperti pada paru-paru pasien akan mengalami ARDS yaitu sindrom gangguan pernapasan yang akut (bisa tidak dapat bernapas secara tiba-tiba). Hal tersebut benar terjadi pada pasien yang sudah terdiagnosa negatif corona. Dan terakhir pada ginjal, dialami oleh 25-50% pengidap Covid-19 dimana fungsi saring ginjal akan menurun dan dapat menyebabkan gagal ginjal,” paparnya dalam siaran langsung seminar online Facing the New Normal Phase 2020 dengan tema “Denpasar Cerdas, Covid-19 Bablas”.

Ia juga menyayangkan bahwa 1/3 masyarakat Indonesia mengidap hipertensi, diabetes, dan lain-lain dimana hal ini menjadi sangat berbahaya apabila terkena Covid-19.

Kontributor dan anggota Docquity advisory group (Medical Education and Knowledge sharing platform di Indonesia) ini juga menyebutkan istilah 'Hammer and the Dance' dimana maksud dari istilah ini adalah pemerintah telah mengeluarkan peraturan keras bagi masyarakat yang harapannya untuk meartil kurva menjadi gepeng.

Tentu saja hal tersebut akan terwujud jika masyarakat bisa menjadi individu yang proaktif dan mau menaati aturan tersebut.

Perihal kesiapan masyarakat memasuki era new normal juga menjadi pertanyaan reflektif bagi kita semua.

“Semua tergantung kita. Kita bisa berefleksi bersama-sama. Apakah kita sudah menerapkan protokol kesehatan? Masih ada masyarakat kita yang belum bisa menerapkan protokol kesehatan dan berarti kita belum siap untuk memasuki era new normal,” kata dr. Fani.

Terakhir, mantan Ketua Divisi Komunikasi Informasi dan Edukasi Kisara PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Provinsi Bali mengatakan bahwa sejatinya kita mampu jika masyarakat terus diberi konten edukatif melalu media sosial berkolaborasi dengan para dokter spesialis dan lainnya.

Selain itu, pemanfaatan big data juga bisa menjadi sarana alternatif sehingga pemerintah melalui hal tersebut bisa mengirimkan segala bentuk edukasi secara massif ke handphone tiap masyarakat seperti yang telah dilakukan di Korea.(*).

Penulis: Noviana Windri
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved